Mon. Jul 6th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Dipicu Aksi Perselingkuhan dan Narkoba, Kasus Cerai PNS Ketapang Kian Bombastis

Foto: Pengadilan Agama Ketapang, Kalimantan Barat.

Ketapang, Kalbar,  Rakyatmerdekanews.com – Belakangan ini kasus perceraian Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pengadilan Agama Ketapang semakin meningkat. Dari tahun ke tahun kasus penceraian  meningkat. Misalnya di tahun 2017 terdapat 46 PNS terlibat kasus pencerian, 45 kasus penceraian sudah diputus ke pengadilan Agama, sedangkan hingga saat ini 1 kasus penceraian masih tertunda. Ungkap Kepala Pengadilan Agama Kabupaten Ketapang, Ansori, SH, MH kepada rakyatmeredekanews.com.di ruang kerjanya, Sabtu (31/03/2018).

Lanjut Ansori, penyebab dari kasus penceraian PNS ini adalah moral (Perselingkuhan dan Narkoba). “Setiap tahunnya kasus penceraian PNS bertambah, di tahun 2017 meningkat menjadi 46 kasus, 45 kasus sudah kami selesaikan, tinggal satu kasus penceraian yang belum selesai, “ujar Ansori.
Sementara itu pihak Repalianto selaku Kepala Bagian Kepegawaian  Pemkab Ketapang saat ditemui media ini dirinya mengaku tidak mengetahui soal 46 kasus penceraian PNS di Kabupaten Ketapang Tahun 2017. Pasalnya, para PNS yang terlibat kasus penceraian tidak pernah melapor ke Dinas Kepegawaian. Repalianto juga menghimbau kepada seluruh oknum PNS yang terlibat kasus penceraian agar mematuhi UU PNS, resiko terberat adalah pemecatan sebagai PNS. Seorang PNS tidak di perbolehkan nikah Siri (nikah bawah tangan), tandasnya.
“Saya baru mengetahui sampai 46 kasus penceraian PNS di Kabupaten Ketapang di tahun 2017. Kebanyakan PNS yang terlibat kasus penceraian tersebut tidak melaporkan ke Dinas Kepegawaian Harusnya Para PNS mematuhi UU PNS yang sudah mengatur terkait proses pemberian resiko
terberat, “ungkap Repalianto.Ditambahkan, pemecatan sebagai seorang PNS tidak di perbolehkan nikah siri.

Ia juga menghimbau kepada seluruh PNS di Kabupaten Ketapang agar berpikir dewasa dalam melakukan penceraian, karena yang menjadi korban adalah anak-anak, pungkasnya. (Maulana)