Pelabuhan Sunda Kelapa Menuju Destinasi Pariwisata

Rakyatmerdekanews.com, Jakarta – Menarik sejarah keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa,sejatinya sejak abad ke-5 dibawah kepemilikan Kerajaan Tarumanegara. Abad ke-12 bepindah tangan menjadi milik kerajaan Sunda. Sejarah Pelabuhan dibangun tahun 1610,dengan kanal sepanjang 810 meter.

Tahun 1817,Pemerintah Belanda mulai memperbesar menjadi 1.825 meter.

Saat Kemerdekaan dilakukan rehabilitasi Kanal sepanjang 3,250 meter dan menampung 70 perahu layar dengan sistem susun sirih. Atas dasar itu semua pihak Pemerintah Republik Indonesia,memberikan mendapat pengelolaannya kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN),yang kali ini PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC,dengan tidak disertifikasi International Ship and Port Securty. Karena sifat pelayanan jasa hanya untuk kapal antar pulau. Mendasari hal itu,perkembangan Pelabuhan Sunda Kelapa akan terus berbenah. Program investasi Pelabuhan Sunda Kelapa telah diinisasi. Seperti pemasangan tiang monopole sebanyak 10 PCS.

Disamping itu,kata General Manager (GM),IPC Cabang Pelabuhan Sunda Kelapa,akan dibangun lapangan Stuffing dan Stripping. Pergantian 95 pos Fender. Pembangunan lapangan penumpukan dan peninggian lapangan penumpukan. Setidaknya agar kenyamanan pelayanan bongkar muat barang menjadi lancar dan disamping itu,Pelabuhan Sunda Kelapa berbenah menuju destinasi pariwisata dan perekonomian. Dari data yang diketahui Rakyatmerdekanews.com,pada tahun 2017,arus kunjungan wisata sebanyak 33 persen. Karena salah satu destinasi dari 12 tujuan wisata DKI Jakarta,Sunda Kelapa disukai wisatawan domestik dan mancanegara.

“Nilai sejarahnya sangat terkait nilai budaya.Keunikan juga menjadi titik penting animo wisatawan terhadap Pelabuhan Sunda Kelapa,”kata Fitriantoro,Humas IPC Cabang Pelabuhan Sunda Kelapa,Kamis (7/2),di Jakarta.

Selain itu,kata Fitriyantoro adalah aktivitas bongkar muat sebagai daya tarik wisata. Salah satunya kegiatan yang dilakukan kapal pinisi yang berusia belas tahun. Kapal tradisionil kapal Bugis.”Tidak bisa dipungkiri dengan pengarus modernisasi kapal pinisi sudah berkurang,”katanya. Sehingga pekerjaan para buruh dalam bongkar muat barang telah didominasi dengan bantuan peralatan canggih. Seperti derek kapal,firklift dan seterusnya. (Delly M)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *