Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Tak Bisa Dilakukan Secara Massif

RMNews, Yogyakarta — Pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak bisa dilakukan secara massif, karena pertumbuhan ekonomi tidak tinggi. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur di Indonesia jangan disamakan dengan Tiongkok, ungkap Ekonom senior Rizal Ramli, Jum’at (5/4).

Ketua Dewan Pembina Asprindo itu juga mengkritisi pernyataan dari tim sukses calon presiden nomor urut 01 yang mengatakan bahwa masalah untung dan rugi pembangunan infrastruktur tidak perlu dipermasalahkan selama bertujuan untuk menyejahterakan rakyat.

Menurut mantan Menko Ekuin itu, pernyataan tersebut tidak tepat, apalagi menggunakan analogi bahwa kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia sama dengan di Tiongkok.
“Itu retorika yang tidak cerdas. Mereka membandingkan pembangunan infrastruktur di Indonesia dan Tiongkok. Itu ngawur berat. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu 12% selama 25 tahun. Jadi, kalau Tiongkok membangun infrastruktur jor-joranan, tidak ada masalah karena pertumbuhan ekonominya tinggi, pasti akhirnya investasinya balik,” ujar mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu.
Kata RR, hal tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang belum menyentuh angka 10% setiap tahun. Karena itu, dia menginginkan pembangunan infrastruktur menyesuaikan perekonomian negara

“Ini ekonomi (pertumbuhan ekonomi Indonesia) bisanya cuma 5%. Mandek di 5% mau membangun infrastruktur jor-joran. Akhirnya, pakai uang negara,” terangnya.

Mantan Menko Maritim itu menambahkan, pernyataannya tersebut merupakan hasil diskusinya dengan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto.

RR mengakui kerap berdiskusi dengan Prabowo terkait permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia meskipun tidak masuk dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Dia juga mengaku belum menentukan pilihan, apakah akan membantu pemerintahan Prabowo jika menang dalam Pemilu 2019, terlebih, hingga saat ini belum ada pembicaraan antara dirinya dan Prabowo tentang arah kabinet atau jabatan lainnya.

“Itu urusan lain lagi. Tidak penting. Yang penting, saya ingin melihat Indonesia maju. Indonesia lebih makmur dan lebih hebat dari hari ini,” jelasnya. (Swd/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *