Keluarga AS Minta Polisi Usut Oknum Yang Menyiksa Anaknya

Tangsel-RMNews.com: Sekumpulan remaja melakukan aksi demo di depan Polres Tangerang Selatan (Tangsel) menuntut Kapolres mengusut oknum polisi yang melakukan penyiksaan terhadap anak dibawah umur berinisial AS, saat ditangkap dengan dugaan melakukan aksi tawuran.

Seperti diketahui, AS (16) warga Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel pada tanggal 24 April 2019 bersama 14 remaja lainnya ditangkap aparat Polsek Ciputat karena diduga terlibat peristiwa tawuran antar remaja di Jalan Raya Maruga Kota Tangsel. Namun keesokan harinya keluarga AS mendapat informasi bahwa anak tersebut ditangkap karena terlibat tawuran.

“saat saya tiba di Polsek Ciputat tenyata anak saya telah dipindahkan ke Polsek Tangsel dan lebih kaget lagi ternyata kondisi anak saya seperti tertekan dan ketakutan, ditambah terdapat luka disekitar tubuh dan terasa patah pada tulang rusuknya” ujar Siti Rahmah orang tua AS, Senin (13/5)

Spontan, lanjutnya anak tersebut memberitahu bahwa luka-luka dan patah tulang rusuknya di akibat penganiayaan oknum aparat kepolisian saat penangkapan dan proses pemeriksaan.

“menurut pengakuan yang bersangkutan dirinya ditampar dan dipukul pada bagian perut kepala serta tanganya dilukai dengan korek api serta penganiyaan di dalam sel oleh tahanan yang berada di Polsek Ciputat” jelasnya

Atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum anggota Polsek Ciputat dan tahanan Polsek Ciputat, Siti pun melaporkan ke SPK Polsek Ciputat. Namun laporan tersebut tidak diterima dengan alasan tidak jelas.

“selanjutnya saya melapor ke Polres Tangsel, namun ironisnya laporan tersebut juga tidak diterima dengan alasan salah satunya AS sebagai korban harus datang/hadir, padahal saat ini yang bersangkutan berada dalam tahanan” katanya.

Siti juga menyoalkan tidak adanya surat perintah penangkapan, surat perintah penahan dan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) dari Kepolisian, baik Polsek Ciputat maupun Polres Tangerang Selatan, kepada pihak keluarga.

“bukan itu saja anak saya juga tidak mendapat perlindungan hukum sebagaimana mustinya anak dibawah umur yang diatur oleh undang-undang. Oleh karenanya, kami membentuk aksi solidaritas dan menuntut aparat penegak hukum melakukan proses sesuai dengan undang – undang dan menuntut pelaku penganiayaan diproses sesuai aturan”pungkasnya. (ratna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *