DAG: Metamorfosa NII, GAFATAR dan HTI Menjadi Teroris

Rakyatmerdekanews.com, JAKARTA – Ideologi kelompok radikal tidak akan pernah mati, demikian dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Demi Anak Generasi (DPP DAG) Bidang Kontra Radikalisme dan Terorisme, Ken Setiawan.

“Hampir semua kelompok radikal di Indonesia, ibu kandungnya adalah Negara Islam Indonesia (NII) yang awalnya di proklamirkan oleh SM Kartosuwiryo pada tahun 1949,” ujar pria pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan eks kelompok radikal NII ini, Jumat (7/6/18) siang.

Menurut Ken, selepas tertangkap dan dieksekusinya SM Kartosuwiryo pada tahun 1962, pergerakan NII terjadi pasang surut. Ditambah lagi ideologi impor HTI, semakin komplitlah pergerakan kelompok yang akan menggulingkan pemerintah. Sebab hampir semua kelompok, baik yang sumbernya NII maupun HTI pada dasarnya anti Pancasila dan hendak diganti dengan Negara Islam atau Khilafah Islam.

“NII sendiri mengalami perpecahan. Ada yang menggunakan teritorial dan ada juga yang non teritorial, ada juga kelompok yang berubah menjadi partai yaitu kelompok Danu Muhamad Hasan. Berkolaborasi dengan ideologi Ikhwanul Muslimin, dulu bernama PK dan sekarang menjadi partai PKS yang dewan syuronya adalah putra kandung Danu Muhamad Hasan yaitu Hilmi Aminudin,” jelasnya.

Dikatakannya, masuknya HTI menambah semarak kelompok anti pemerintah dan yang menjadi sasaran adalah kalangan pelajar serta mahasiswa, walaupun sempat di bekukan oleh pemerintah.

“Hebatnya adalah kelompok radikal tersebut tidak pernah putus asa. Ketika di bekukan mereka akan ganti nama dengan nama lain,” katanya.

Misalnya NII KW9 ketika teridentivikasi oleh masyarakat berganti nama menjadi ormas Masyarakat Indonesia Membangun (MIM). Alqiyadah al Islamiyah juga, setelah Ahmad Musadeq tertangkap akhirnya berganti nama menjadi Komunitas Millah Ibrahim ( Komar). Ketahuan, sesat lagi berganti nama lagi menjadi Gafatar.

“NII KW2 yang di komandani oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Basyir juga bermetamorfosa menjadi Jamaah Islamiyah walaupun dalam baiatnya masih menggunakan baiat NII,” tegasnya.

Dia menjelaskan, kini kelompok radikal punya metode unik. Walaupun beda kelompok tapi punya kesamaan anti terhadap pemerintah, kini mereka bersatu. Banyak jaringan baru muncul akibat kekecewaan terhadap pemerintah karena temen teman yang sepemikiran dengan mereka ditangkap aparat.

Aparat dianggap tidak mendukung bahkan menghalang-halangi mereka dalam memperjuangkan konsep negara Islam/khilafah yang di gaungkan kelompok radikal.

“Bahasa mereka, aparat itu memadamkan cahaya Allah. Makanya salah satu sasaran para pelaku teroris adalah aparat keamanan,” jelas Ken.

Untuk itu dirinya meminta masyarakat mewaspadai organisasi radikal kloningan mereka. Seperti NKRI, yang ternyata kepanjangannya bukanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia melainkan Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah (NKRI).

Juga NU yang kepanjangannya bukanlah organisasi Nahdlatul Ulama, tapi adalah Nadhlotul Umat. Selain itu ada Harakah Sunny untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi), Komunitas Royatul Islam (KARIM), dan lain lainya.

“Banyak petinggi NII KW9 dan GAFATAR serta HTI menyatu dalam organisasi diatas. Bahkan ada beberapa yang main di dua kaki, seperti Sumiyanta dan Saifudin yang merupakan teman seangkatan Sumiyanta di NII KW 9 yang mendirikan Hasmi di Bogor dan sebagai Wakil ketua DPP Hasmi,” paparnya.

Sumiyanta yang keluarganya tinggal di Gading Pringsewu Lampung merupakan Menteri Kesehatan NII KW9 yang juga menjadi Sekjen Gafatar Wilayah Lampung.

Kelompok radikal kini banyak membuat lembaga resmi, seperti yayasan dibidang kegiatan sosial yang tersebar di seantero negeri. Ada yang sifatnya nasional dan ada yang International, jangkauan kegiatan sosialnya termasuk beberapa ormas untuk menggalang dana dalam membantu ISIS di Suriah.

“Beberapa yayasan yatim piatu, duafa dan fakir miskin milik NII sebagai kedok untuk mencari dana dan merekrut anggota baru,  misal Yayasan Dulur Salembur,  Yayasan Rahmatan Lil Alamin, Cahaya Alam, Gema Insani, dll,” imbuhnya.

Penggalangan dananya cukup mudah, mereka nongkrong didepan ATM, food court, pom bensin, halte bus way, di masjid saat sholat jumat dan bahkan kalau ada bencana mereka turun dari rumah kerumah meminta sumbangan.

Dalam beberapa kegiatan seminar keliling, Ken juga menyebut banyak ternyata masyarakat tidak tahu dan banyak yang justeru menjadi donatur tetap salah satu yayasan kloningan kelompok radikal tersebut, karena melihat profilnya memang sangat bagus.

“Mereka kini masuk sekolah dan kampus lewat program eskul, biasanya lewat alumni, mereka membuat kegiatan bimbel gratis, pelatihan, outbond dan lainnya untuk mencari simpati para pelajar dan mahasiswa. Selanjutnya akan mereka seleksi siapa saja yang tertarik untuk dibaiat dan direkrut kedalam jaringan mereka,” ujarnya.

Ini yang akhirnya mencoreng nama baik organisasi/yayasan yang benar benar membantu masyarakat.

Dirinya berharap sekolah dan kampus lebih intens mengadakan pembekalan dan pencegahan bahaya radikalisme, sebab diusia itu adalah masa peralihan dan sangat berpotensi untuk direkrut oleh kelompok radikal.

“Organisasi kloningan mereka yang secara nama cukup bagus dan hampir menipu masyarakat seolah-olah mereka nasionalis tapi mereka sebenarnya anti terhadap pancasila dan anti terhadap pemerintah,” katanya.

Bagi Ken, teroris itu awalnya adalah radikalisasi pemikiran yang menjadi intoleran, dan menurutnya intoleransi adalah pintu gerbang radikalisme dan terorisme.

Karena bagi kelompok Neo Khawarif, siapapun pemimpinnya bila bukan dari kelompok mereka maka akan di kafirkan dan halal darah serta hartanya. Seperti khawarij jaman Sayidina Ali yang dibunuh Ibnu Muljam yang rajin ibadah, bahkan hafidz Al Quran tapi agama hanya dijadikan kedok untuk merebut kekuasaan.

“Untuk itu NII Crisis Center membuka Hotline Whatsapp 0898-5151-228 untuk pengaduan dan pendampingan pada masyarakat yang menjadi korban kelompok radikal, kami bersama-sama sinergi melawan paham radikalisme dan terorisme lewat seminar atau diklat kebangsaan,” jelasnya. (Jons)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *