Hanna Laporkan Dokter dan RS GPI Ke MKEK Dan MKDKI

Jakarta – RMNews.com: Diduga melakukan malpraktik dua orang dokter berinisial IM dan S serta Rumah Sakit Grha Permata Ibu (RS GPI), Kukusan, Depok dilaporkan ke Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Majelis Kehormatan dan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) oleh pasien atas nama Hajjah Siti Hannah (43).

“Saya melalui kuasa hukum sudah 3 kali mengundang pihak rumah sakit dan dokter untuk klarifikasi, tapi baik rumah sakit maupun dokter tidak pernah menggubris undangan kami”, ujar Hannah, dalam release yang diterima redaksi rakyatmerdekanews.com, Rabu (31/7).

Menurut Hanna, kasus ini bermula saat dirinya mengalami pendarahan hebat dan keguguran, yang diduga disebabkan oleh kelalaian dan keteledoran rumah sakit dan dokter yang menangani, ia berobat ke RS GPI setelah mendapatkan surat rujukan dari Puskesmas Depok Jaya karena didiagnosa mengalami blighted ovum and nonhydatidiform mola.

“Siapa yang mau kehilangan bayi, biarpun dibayar milyaran tetap tak bisa menggantikan” katanya.

Berdasarkan informasi yang dimaksud dengan blighted ovum adalah semacam kehamilan embrionik atau kehamilan yang tidak mengandung embrio meskipun terjadi pembuahan di dalam rahim. Sedangkan nonhydatidiform mola atau disebut juga dengan hamil anggur adalah merupakan tumor jinak yang berasal dari trofoblast.

“Selama kehamilan memang saya mengalami banyak gangguan dan pendarahan, sedangkan dokter dan rumah sakit yang menangani tidak pernah memberikan penjelasan secara utuh dan tuntas sebab-sebabnya apalagi memberikan pelayanan yang baik” jelasnya.

Sementara itu kuasa hukum pelapor, Slamet, SH mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan dokter dan rumah sakit diduga telah menyalahi kode etik dan standar pelayanan rumah sakit.

“Sesuai Pasal 2, 5, 7 dan 13 Kode Etik Kedokteran, seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai standar profesi yang tinggi dan kami menduga mereka telah melanggar itu” ujarnya.

Pihaknya juga telah berupaya mengundang secara baik – baik namun belum direspon positif.

“Oleh karena itu klien kami menyerahkan kasus ini kepada instansi MKEK, MKDKI dan Badan Pengawas Rumah Sakit” pungkasnya (ips)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *