Sun. Feb 23rd, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Kaji Nasionalisme, Ken Setiawan Digandeng Broadcast Dakwah Islam (BDI)

 

Rakyatmerdekanews.com, DENPASAR – Dalam suasana kemerdekaan ini, Ketua Bidang (Kabid) Kontra Radikalisme dan Terorisme Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demi Anak Generasi (DAG), Ken Setiawan melanjutkan roadshow pemaparannya bersama Komunitas Muslim Broadcast Dakwah Islam (BDI) ke beberapa Musholla dan Masjid di Bali.

Rabu (21/08/19) lalu, di Masjid Baitul Makmur Jalan Gunung Merbuk II Denpasar, usai shalat maghrib menjadi tempat kajian berikutnya setelah sukses di acara Polda Bali dan beberapa masjid lainnya.

Kedatangan Mantan Komandan Negara Islam Indonesia (NII) itu dibarengi Ustadz Emha Aminullah (pembelajar di Islamic University of Madinah KSA), dan tema yang diusung dalam kajian malam itu adalah ” Arti dan Cara Mensyukuri Kemerdekaan”.

Kedua pembicara ini sebelumnya sudah mengisi kajian pada Selasa (19/08/2019) lalu di Masjid Agung Sudirman dengan membawa tema “Islam Rahmatan Lil Alamin”.

Lalu mengisi kajian di Masjid Baitturahman Kampung Jawa dengan Tema ” Islam Agama Pertengahan” dan mampir di Masjid Baitul Mukminin BKDI dengan tema ”Nikmat Aman” saat kajian subuh.

Dimoderatori Ustadz Sigit, Ustadz Emha Aminullah mengingatkan perjuangan para ulama, ustadz, kyai, dai dan para tokoh agama di masa penjajahan di masa lalu.

“Saat itu para ulama kita menyerukan kepada para santri-santri untuk mengangkat senjata melawan penjajah,” ujarnya.

Saat itu tujuannya tentu untuk supaya kaum muslimin menemukan persatuan dan bisa beribadah secara leluasa serta menuntut ilmu agama tanpa diawasi.

Meskipun perjuangan mengusir penjajah telah usai. Demi mengapresiasi tokoh ulama yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan, kita umat Islam dapat tujuan yang mereka giatkan dengan ibadah.

“Kita punya kesempatan beribadah dengan bebas dan aman. Dengan menuntut ilmu kita bisa tahu cara beribadah yang benar,” katanya.

Masuk ke materi yang dibawakan Ken Setiawan, mantan komandan NII yang kini telah insyaf kembali itu menceritakan dirinya saat bergabung dengan organisasi NII (Negara Islam Indonesia) modern selama 3 tahun dalam Divisi Perekrutan dan Pencari Dana.

Akibat ketidak pahamannya terhadap ilmu agama dan program “brain storming” yang dilakukan dedengkot NII, ia terjerumus dalam hal yang salah.

“Saya masuk NII murni karena ketidak pahaman mengenai agama, dialog dan arguementasi para pimpinan NII dengan mengutip ayat-ayat Al Quran membuat saya tertarik dalam organisasi terlarang ini” jelasnya.

Doktrin yang begitu menyesatkan, yaitu mengubah rukun Islam yang menjadi dasar keislaman umat Islam di dunia.

“Pancasila disebutkan pimpinan NII sebagai thogut dan peninggalan penjajah, syahadat dalam NII diganti menjadi Tiada Negara Islam selain NII. Saya dijejali idealisme yang salah dan ayat-ayat Al Quran sebagai tameng lembenaran” paparnya.

Nabi Muhammad sebagai nabi penutup dianggap bukan pembawa risalah terakhir. “Contohnya mereka mengimani ada Rasul sesat Ahmad Musadeq yang dulu sempat viral,” papar pria asli Lampung itu.

Hal yang membuat jamaah yang hadir itu geleng-geleng kepala adalah saat Ken menceritakan ketika mengelilingi salah satu pondok pesantren di Indramayu dengan mobil dikatakan melempar jumrah bukan menggunakan tujuh kerikil tapi menggunakan Tujuh sak semen.

“Kalau ibadah haji umat Islam mengelilingi Ka’bah di Makkah, pengikut NII malah mengelilingi salah satu ponpes terkenal di Indramayu dengan mobil,” jelasnya.

Malam itu dirinya mengajak para orang tua untuk berhati-hati dalam menjaga pergaulan anak-anak mereka. “Anak yang pintar dan hafidz Al Quran pun belum tentu bebas dari bahaya NII, awasi sejak dini pergaulan anak kita” tegasnya. (Jons)