Tue. Aug 4th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Dinilai Bakal Munculkan Importir Abal-abal dan Calo, Pusbarindo Tuntut Permentan Dicabut

RakyatMerdekaNews.com,Jakarta – Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 39 dan 46 tahun 2019 terkait wajib tanam yang dirasakan merugikan para pelaku usaha bawang dan sayuran umbi yang tergabung dalam Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang & Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo).

Pasalnya, kedua Permentan tersebut akan memunculkan importir abal-abal dan calo. Hal ini dikatakan oleh ketua Asosiasi Hortikultura Nasional ,Muslim Arbi kepada awak media.

Muslim Arbi mengatakan, Pusbarindo mendesak pemerintah untuk mencabut kedua Permentan tersebut karena menggusur kepatuhan impor terkait wajib tanam, sesuai Permentan 38/2017.”Keluhan ini sudah diungkapkan kepada komisi IV DPR RI yang menyebutkan kepatuhan importir terukur dalam evaluasi wajib tanam 5% dari Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) dari Kementan untuk dilanjutkan Surat Perintah Impor (SPI) dari Kemendag,”ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa kerugian importir bisa mencapai Rp 100 juta/hektar dengan rata-rata satu importir wajib tanamnya 20 hektar setara Rp 2 milyar/pengusaha. Kondisi itu bertambah buruk jika dikalikan jumlah 50 importir atau setara Rp 100 milyar.”Kontroversi kebijakan itu meresahkan importir. Permentan 38/2017 mewajibkan importir menanam bibit untuk swasembada bawang putih, yang dipatuhi pengusaha demi mendapat RIPH & SPI. Kebijakan itu dihapus dengan Permentan 39 & 46 tahun 2019 dimana importir bisa mendapat RIPH-SPI setelah berjanji menanam bibit, yang ditengarai bisa dijadikan akal-akalan importir abal-abal atau calo,” jelas Muslim.

Hal yang sama juga di terangkan oleh Ketua Pusbarindo ,Valentino yang mengisyaratkan perubahan Permentan justru menunjukkan ketidak konsistenan pemerintah Cq Permentan sehingga dipertanyakan iktikad baik karena memunculkan importir abal-abal & calo. “Jadi, siapa sebenarnya yang menciptakan mafia pangan,apalagi kuota yang seharusnya datang pada awal-awal tahun 2020 untuk pengadaan 2019 ini malah tidak terjadi sehingga dikhawatirkan kelangkaan bawang putih dan memicu harga melangit,” terangnya.(Arief)