Tue. Jul 7th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Gibran Mengekspresikan Potret Kemandirian, Senang Dapat Pengetahuan Baru Terkait Persoalan Kaum Difabel

SOLO – Gibran Rakabuming Raka (32), mengekspresikan potret kemandirian hasil temuannya di lapangan. Saat putra sulung Presiden Jokowi itu biasa menjumpai sepeda motor roda tiga dikendarai difabel. Kadang ada yang mengangkut gas atau air galon, (25/1).
Gibran menuturkan, ide modifikasi dan pembuatan sepeda motor roda tiga berasal dari mereka sendiri, hal ini tentunya demi memudahkan mobilitas mereka, ketika angkutan umum tidak mudah diakses mereka, tuturnya.
Asal tahu saja, dalam dunia difabilitas, Solo bisa disebut sebagai kota rujukan dalam bidang pendidikan, rehabilitasi medis, hingga penyiapan keterampilan individu dan olahraga. Tokoh perintisnya adalah Prof. Soeharso, yang membidani lahirnya pusat rehabilisi, termasuk RS Orthopaedi, dan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC). National Paragames Commuttee (NPC) atau Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) atlet difabel pun berkedudukan di Solo. Karena pada 1986, Kota Solo pernah ditunjuk menjadi tuan rumah Fespic Games se-Asia-Pasifik (kini bernama Paragames).

Gibran menjelaskan, saat Anda sering dibuat bingung dengan dua istilah: disabilitas dan difabilitas. Keduanya sama saja. Secara internasional, yang digunakan adalah ‘disabilitas’, sehingga diadopsi dalam istilah resmi pemerintah kita, termasuk yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan, jelasnya.

Tapi, kebanyakan menurut Gibran, mereka lebih akrab dengan difabel, yang berasal dari kata ‘different ability’ atau perbedaan kemampuan. Harkat kemanusiaannya sama, namun yang membedakan adalah kendala (fisik dan/atau mental) yang dialami. Ada yang lumpuh (tuna daksa), tuli (tuna rungu), buta dan low vision (tuna netra) dan tuna grahita.

“Senang sekali, hari ini saya mendapat banyak pengetahuan baru mengenai masalah-masalah yang dihadapi kaum difabel, baik dari Ibu Pikat maupun teman-teman difabel lainnya, “ujar Gibran.

Masih kata Gibran, Bu Pikat ini termasuk tokoh yang memperjuangkan hak-hak difabel, dan bersama teman-teman yang lain berhasil mendorong munculnya Perda Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kesetaraan Difabel. Itu Perda pertama di Indonesia yang mengatur hak-hak difabel, katanya.

“Semoga tidak ada lagi praktik diskriminasi di seluruh muka bumi, apalagi bagi kita, warga Kota Solo, “harap.Mas Gibran.

Apakah Anda punya pengalaman berinteraksi atau bahkan hidup bersama difabel? Bagi-bagi cerita dong. (Bambang/Red)