Wed. Jul 8th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Orang Keturunan Tionghoa Punya Peran Dalam Menyebarkan Agama Islam di Indonesia.?

Beberapa tokoh dari Wali Songo kemungkinan masih mempunyai darah Tionghoa. Pada abad ke 15, dua orang keturunan Tionghoa dari Samarkand, Uzbekistan, Maulana Malik Ibrahim, dan adiknya Maulana Ishak datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam, setelah menetap beberapa saat di Campa.

Maulana M. Ibrahim, dengan nama asli Chen Yinghua alias Tan Eng Hoat, menyebarkan Islam di Gresik, Jawa Timur (maka dari itu dikenal dengan nama Sunan Gresik), sementara Maulana Ishak menyebarkan Islam di Samudera Pasai, Aceh. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakannya, atau anak Maulana Ishak. Sunan Bonang dan Sunan Dradjat adalah anak dari Sunan Ampel.

Artinya mayoritas dari sembilan tokoh yang menyebarkan agama Islam di Indonesia masih punya darah Tionghoa, kecuali Sunan Muria, anak dari Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) yang kemungkinan berasal dari Cairo.

Cara berpakaian kita sekarangpun juga tanpa disadari terpengaruh budaya Tiongkok.

Baju koko yang biasa dipakai orang Islam di Indoñesia saat lebaran adalah peninggalan bangsa Tionghoa di Indonesia. Sejarawan JJ Rizal bilang baju itu berasal/diadopsi dari baju “Tui-Khim”, baju dengan kerah pendek yang biasanya digunakan dengan Celana Komprang (longgar). Orang Betawi biasa nyebutnya baju “Tikim.” Baju ini sedikit berbeda dengan baju “Sarjan” atau baju “Takwa” yang digunakan oleh Sunan Kalijaga. Liat foto Wali Songo, cuma Sunan Kalijaga yang tidak memakai jubah dan sorban, yang Delapan lainnya memakai semua, seperti orang Arab.

Konon pada abad 19, orang Tionghoa yang menggunakan baju “Koko” atau “Tui-Khim” ini kebanyakan tinggal di Batavia, karena yang tinggal di Surabaya sudah lebih modern dalam hal berpakaian — lihat “Riwajat Hidup Saja dan Keadaan Djakarta” oleh Tio Tek Hong (1959). Dan lucunya, kalo ini ngga tau bener atau ngga, tapi katanya dulu yang suka pake baju itu adalah “engkoh-engkoh” (lelaki Cina/kakak), makannya disebut “koko” — lihat novel “Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khalifah” oleh Remy Sylvado (2008).

Jadi boleh lah sekarang datang ke rumah teman yang lagi ngerayain imlek, ngucapin selamat sambil pake baju koko.

Gong Xi Fat Cai (Jons)