Sat. Jul 4th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Tantangan dan Ancaman Generasi Millenial di Era Post truth : Harapan dan Cita

Rakyatmerdekanews.com – Jakarta –  generasi millenial menjadi topik yang cukup hangat dibicarakan dikalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi, dan politik. Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun. Hal ini berarti Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk membangun negaranya.

Era post-truth menjadi tantangan para millenials. Era ini adalah masa dimana kebenaran bukan lagi relatif, tetapi kolektif dan personal. Mempercayai sesuatu tergantung dari keyakinan pribadi dan golongan. Kebenaran difilter dengan echo-chambers media sosial pribadi mereka.

Memang para millenials selalu men-digitalisasi hal apa pun. Bagi yang terjebak echo chambers, hal ini menjadi bahan haha hihi belaka. Sedang bagi yang milenials cerdas, hal ini tentunya mengkhawatirkan. Ditambah berita bohong yang dapat membuat gesekan di RL (Real Life).

Sungguh kita tengah dihadapkan kepada persoalan yang rumit. Antara kebenaran dan kebohongan semakin sulit dibedakan. Kebohongan bisa menjadi benar karena disukai, sementara kebenaran bisa dianggap suatu kebohongan bila banyak yang mencaci.

Relph Keyes dalam bukunya “The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life” (2004) mengatakan bahwa era ini dapat diandalkan. Manipulasi kreatif dalam kebohongan begitu mudah dilakukan. Data yang diinginkan dipotong, dipilih dan disunting untuk menyimpulkan siapa yang ingin ditonjolkan, dibuat baik atau apalah namanya dalam habitat yang sejenis. Kebohongan pun diganti menjadi istilah kebenaran alternatif. Dan itulah era pasca-kebenaran (post-truth).

Tantangan terberat yang tengah dihadapi oleh millenials tentu menjaga kedaulatan rakyat di era yang serba abu-abu ini. Apalagi kita tengah dihadapkan kepada fenomena politik kebencian. Di mana pihak yang berseberangan selalu saling serang dan saling menyalahkan.

Generasi millenials harus pahami bahwa sesungguhnya politik adalah untuk menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Bukan untuk kepentingan individu atau sekelompok orang saja.

Dunia perpolitikan harus kembali dibangun atas dasar kebenaran. Pencitraan yang penuh kebohongan harus segera ditinggalkan. Sebab itu hanya akan berujung kepada kebodohan dan perpecahan di dalam masyarakat.

Tugas dan peran yang dilakukan oleh generasi millenials yaitu masyarakat dicerdaskan, bukan dicerdasi. Masyarakat harus disuguhkan kebenaran, bukan dipaksa untuk membenarkan kebohongan.

Untuk itu merekayasa digitalisasi harus dilakukan dengan selalu mengorientasikan kebenaran. Jangan sampai generasi millenials terjebak dalam pusaran kebohongan dan kebencian.

(Adhiya Muzaki)

Pegiat Politik Kontemporer