Mon. Apr 6th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Polda Metro Bongkar Kasus Sindikat Mafia Tanah, 10 Pelaku Berhasil Diringkus

Rakyatmerdekanews.com, Jakarta – Polisi terus menyelidiki mafia tanah yang meresahkan masyarakat. Polda Metro Jaya menggandeng Menteri ATR/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk memberantas mafia tanah tersebut.

Kali ini, Subdit II Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus sindikat mafia tanah.
Pengungkapan kasus tersebut digelar di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2020).

Hadir dalam kegiatan itu, Menteri Agraria dan tata ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Sofyan Djalil, para pejabat tinggi Madya Kementerian Agraria, Kasubdit Pengolah Data Center dan dlc pack staf khusus tenaga ahli Kementerian Agraria dan tata ruang Kepala BPN. Juga hadir Dirjen dukcapil material dalam negeri serta para Kadis dukcapil Tangerang Selatan, Adi Budiawan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan,  kita semua hadir disini dan juga seluruh jajaran yang telah membongkar salah satu kasus yang terjadi di Jakarta, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi semua  bagi kita. Sindikat mafia tanah dengan menggunakan sertifikat palsu dan e-KTP ilegal ini diungkap oleh Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya, jadi ada dua peristiwa yaitu gabus dan locus delicti yang berbeda dari yang pertama masalah pemalsuan sertifikat, ungkapnya.

Kemudian yang kedua lanjut Kapolda, yaitu pembuatan e-ktp ilegal terkait dengan pemalsuan sertifikat dengan modus seolah-olah ingin membeli rumah. Kemudian sertifikat milik korban ditukar dengan sertifikat palsu, yang mana para tersangka sudah menyiapkannya, ujarnya.

“Jadi ini merupakan sindikat  yang sudah menyiapkan calon pembeli rumah kemudian menyediakan notaris fiktif juga, “ujar Kapolda.

Masih menurut Irjen Nana, mereka menyiapkan untuk memasukan buku sertifikat kemudian ada juga orang yang disuruh untuk mengecek sertifikat tanah ke BPN. Yaitu terkait dengan masa pembuatan e-ktp ilegal itu. Jadi, mereka ini merupakan bagian dari cerita tersebut dengan cara menginput data palsu menggunakan alat perekam e-ktp di kecamatan Pamulang.

Sehingga tambahnya, KTP tersebut valid dan terdaftar di Dukcapil Tangerang Selatan. Ini dilakukan oleh salah seorang oknum honorer di kecamatan Pamulang.

Lebih jauh Irjen Nana menguraikan, hal ini dilakukan untuk mencari keuntungan dengan cara menjaminkan sertifikat kepada pihak lain dengan harga memang jauh di bawah pasaran. Dengan bermodalkan KTP tersebut lalu membuat kartu keluarga kemudian ia buat Akta Nikah NPWP.  Kemudian, membuka rekening bank guna menampung hasil kejahatan, urainya.

Sedangkan untuk para tersangka ada 10 orang, ini merupakan satu sindikat jadi 10 tersangka. Ini sudah ditangkap dan ditahan sebanyak 7 orang. Sedangkan 1 orang masih menjalankan hukuman di Rutan Cipinang. Dan 2 orang masuk dalam DPO dari 10 tersangka selain tadi 7 orang sudah ditahan

Berawal dari korban-korban berinisial ini berniat untuk menjual rumahnya yang terletak di Jalan Brawijaya Nomor 12 Jakarta Selatan. Dan dia melalui namanya memasang spanduk kemudian juga di media. Lantas, beberapa hari kemudian ada seseorang berinisial D langsung menemui pemilik rumah tersebut mereka melakukan negosiasi dari harga sekitar 8 per 75. Akhirnya disepakati harga rumah tersebut senilai 60 miliar. Kemudian tersangka D yang tadi disampaikan mati dalam CPO ini menyarankan agar sertifikat dilakukan pengecekan kepada Notaris yang mereka siapkan, pungkasnya. (Fachri/Hanny)