Wed. Apr 1st, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Tanggung Jawab Pendidikan: Keluarga Versus Sekolah

KELUARGA sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama, keluarga
diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis
bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga diharapkan mampu menghasilkan anak-
anak agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang dapat hidup di tengah-tengah masyakatnya,
dan sekaligus dapat menerima, menggunakan serta mewarisi nilai-nilai kehidupan dan
kebudayaan. Keluarga merupakan pendidikan pertama bersifat alamiah.

Di alam keluaga anak dipersiapkan oleh lingkungan keluarganya untuk menjalani tingkatan-tingkatan
perkembangannya sebagai bekal untuk memasuki dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan seluruh isi kebudayaan merupakan pekerjaan yang dikerjakan keluarga dan masyarakatnya didalam mempertahankan kehidupan oleh keluarga.

Pada alam keluarga,
orang tua (Ayah dan Ibu) terutama ayah kepala keluarga dengan bantuan anggotanya mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan sebuah keluarga, berupa bimbingan, ajakan,
pemberian contoh, kadang sanksi yang khas dalam sebuah keluarga, baik dalam wujud pekerjaan kerumah-tanggaan, keagamaan maupun kemasyarakatan lainnya, yang dipikul atas
seluruh anggota komunitas keluarga, atau secara individual, merupakan cara-cara yang biasa
terjadi pada interaksi pendidikan dalam keluarga.
Keluarga merupakan tempat mendidik anak untuk pandai, berpengalaman,
berpengetahuan, berperilaku dengan baik. Bilamana kedua orang tua dalam keluarga,
memahami dengan baik kewajiban dan tanggung jawab sebagai orang tua. Orang tua (ayah
dan ibu) tidak hanya sekedar membangun silaturrahmi dan melakukan berbagai tujuan
berkeluarga seperti tujuan reproduksi, meneruskan keturunan, menjalin kasih sayang dan lain
sebagainya, yang lebih terpenting bagi dari tugas keluarga adalah menciptakan suasana dalam
keluarga proses pendidikan yang berkelanjutan (continius progress) guna melahirkan generasi penerus (keturunan) yang cerdas dan berakhlak (berbudi pekerti yang baik), baik dimata orang tua, dan masyarakat.

Selama ini ada logika yang kurang tepat. Banyak keluarga yang menempatkan
pendidikan sekolah sebagai satu-satunya dan utama. Akibatnya, pendidikan keluarga tidak mendapatkan perhatian yang lebih. Seorang anak yang pulang dari sekolah tidak lagi ditanya
oleh orang tuanya apa yang dipelajari di sekolah. Sebab, orang tua terlampau mengandalkan mental anaknya kepada sekolah.
Pondasi dan dasar-dasar yang kuat adalah awal pendidikan dalam keluarga merupakan
dasar yang kokoh dalam menapaki kehidupan yang lebih berat dan luas bagi perjalanan
amemungkinkan siswa melakukan belajar sehingga bisa berubah tingkah lakunya dalam proses
pengajaran? Guru adalah manusia biasa yang sekaligus memiliki kelebihan dan kekurangan.
Karena guru adalah manusia biasa, guru bukan manusia super yang tanpa ada cacat.
Mengingat banyaknya permasalahan yang ada tentang guru khususnya dalam
perlindungan hukum, selain itu agar guru tidak selalu disalahkan, bukan hanya siswa yang
harus dilindungi tapi guru juga harus dilindungi.
Sejalan dengan hal di atas, walaupun belum memadai telah lahir Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2017 tentang
Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang secara teknis diatur dengan
Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun
2018 tentang Petunjuk Teknis Perlindungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam

Pelaksanaan Tugas. Oleh karena itu, penulis mengajak Pendidik dan Tenaga Kependidikannak-anak manusia berikutnya. Maka tepatlah apa yang digambarkan Allah SWT dalam kitab
suci Al Qur’an misalnya QS. Annisa : 58, QS. At Tahrim : 6, QS. Hud : 46, QS. Al Anfal :
28, QS. Al Kahfi : 48, yang kesemuanya ayat-ayat tersebut mengisyaratkan pentingnya mendidik anak dalam lingkup keluarga.

Pendidikan yang utama dan pertama sesungguhnya adalah keluarga. Lebih spesifik,
sebuah ungkapan bijak menegaskan, “Al-ummu madrasatun ūla.” Maknanya, ibu adalah sekolah(an) yang pertama. Dari sejak di rumah lah seorang anak ditempa, dididik, diarahkan, diluruskan, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sentuhan lembut, perhatian yang tulus, pendampingan yang terus-menerus, adalah wujud kepedulian orang tua.
Rumusnya sangat jelas. Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang di rumahnya akan mencari kasih sayang di tempat lain. Anak yang selalu dikekang di keluarganya akan
mencari kebebasan di lokasi lain. Oleh karena itu, kasih sayang orang tua sangat penting.

Tentunya kasih sayang yang proporsional. Bukan setiap kali anak bersalah kemudian dibela. Itu namanya memanjakan, yang tidak baik untuk perkembangan mental anak. Cara orang tua mendidik biasanya meniru bagaimana dahulu mereka pernah dididik. Model tersebut tentu tidak salah kalau pendidikan yang pernah diterima memang sudah ideal.

Tetapi, bila sudah tidak relevan lagi dengan konteks sekarang maka perlu ditelaah kembali. Ringkasnya, kita bersyukur pernah dididik dengan cara terbaik menurut orang tua kita.

Namun, kita tetap membuka diri untuk belajar bagaimana mendidik yang lebih baik.
Akhirnya, bila pendidikan keluarga sudah mapan maka tawuran tidak lagi menjadi
tontonan. Saat keluarga memberikan cinta dan sayangnya secara proporsional maka seorang
anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ideal. Lebih utama, tugas keluarga adalah
menciptakan bangunan dan suasana proses pendidikan keluarga sehingga melahirkan
generasi yang cerdas, berakhlak mulia sebagai pondasi dasar yang kokoh dalam menapaki kehidupan dan perjalanan anak manusia. Lalu apa fungsi sekolah? Sekolah merupakan
keberlanjutan dari pendidikan yang telah dibangun sejak di rumah.

Sekolah merupakan keberlanjutan dari pendidikan yang telah dibangun sejak di
rumah. Di sekolah terdapat guru. Guru merupakan sosok pahlawan yang jasanya tiada tara, peran seorang Guru dalam proses kemajuan pendidikan sangatlah penting. Guru merupakan salah satu faktor utama bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak
hanya dari sisi intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat.

Oleh karena itu, tugas yang diemban guru tidaklah mudah. Beban berat yang diemban seorang guru sebagaimana diamanatkan Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dengan demikian, fungsi guru dalam sistem pendidikan nasional adalah sebagai
pengajar sekaligus sebagai pendidik. Artinya peran guru tidak hanya sebatas menyampaikan pendidikan dalam ranah kognitif atau mentransfer ilmu pengetahuan saja, namun
pembentukan kepribadian peserta didik menyangkut aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (tingkah laku) merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Sehingga out put yang  dihasilkan tidak hanya menciptakan anak didik yang hebat dalam segi intelektual namun
keropos dalam bidang mental, sikap dan perilaku.

Untuk melindungi para pendidik Guru/Dosen dalam menjalankan tugas luhurnya
tersebut Pembangunan pendidikan nasional Indonesia mendapatkan kekuatan dan semangat baru dengan disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 juga membawa konsekuensi atau implementasi terhadap pendidikan, termasuk terhadap guru dan tenaga kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual.
Kekuatan dan semangat penyelenggaraan pendidikan juga makin bertambah dengan adanya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Undang-undang ini dianggap bisa menjadi payung hukum untuk guru dan dosen tanpa adanya perlakuan yang berbeda antara guru negeri dan swasta. Dalam Pasal 36 menyebutkan:
Pemerintah, masyarakat, organisasi profesi, dan atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas. Walaupun keberadaan UU tersebut terkesan lebih pada kekuatan hukum atas peningkatan kesejahteraan guru, sementara
perlindungan terhadap profesi guru seringkali lepas dari perhatian. Perjuangan yang tulus, seperti matahari yang tidak kenal lelah menyinari bumi, digugulan ditiru merupakan simbol dari guru yakni meniru perilaku dan selalu didengar perkataannya. Akan tetapi semua itu kini tinggal kenangan. Fenomena guru yang mempunyai wibawa dan karisma itu, kini mulai menurun dan sedikit demi sedikit memudar. Untuk
mengkriminalkan guru sekarang tidaklah sulit. Banyak hal yang memberi kemungkinan besar
guru masuk di dalamnya. Sebut saja akibat tindakan menjewer murid, yang menurut guru tidak disiplin dan layak dijewer agar setelah itu bisa lebih disiplin. Faktanya, sekarang
banyak orang tua dan pihak-pihak tertentu yang tidak setuju guru main jewer.
Bahkan seorang guru seorang guru Hanya gara-gara mencukur rambut salah satu
siswanya, seorang guru harus duduk dikursi pesakitan. Dalam persidangan, guru tersebut terbukti bersalah dan divonis tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan.

Menurut penulis, hal itu sangat berlebihan maksud dari guru bukanlah untuk melakukan penghinaan akan tetapi agar si murid tersebut lebih disiplin.
Pada dasarnya guru ingin mendidik muridnya untuk lebih disiplin tapi malah
diadukan ke kantor polisi dengan dalih guru melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan.

Peran dan tugas guru bukan hanya sebagai pengajar yang menyampaikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, bimbingan, petunjuk, merancang dan melaksanakan pembelajaran serta menilai saja tetapi, guru juga sebagai sebagai pendidik adalah untuk mengembangkan kepribadian
dan membina budi pekerti, jadi apa salahnya seorang guru itu bila ingin mendisiplinkan anak
didiknya agar memiliki budi pekerti yang baik. Apa yang harus dilakukan seorang guru
apabila mendapati siswa yang kurang sepantasnya dilakukan seorang siswa/murid.

Kalaupun memberi teguran sudah tidak mengatasi, apa hanya membiarkan karena takut dikriminalisasi.
Bagaimana cara guru mengembangkan dan menciptakan serta mengatur situasi yang memungkinkan siswa melakukan belajar sehingga bisa berubah tingkah lakunya dalam proses
pengajaran? Guru adalah manusia biasa yang sekaligus memiliki kelebihan dan kekurangan.

Karena guru adalah manusia biasa, guru bukan manusia super yang tanpa ada cacat.
Mengingat banyaknya permasalahan yang ada tentang guru khususnya dalam perlindungan hukum, selain itu agar guru tidak selalu disalahkan, bukan hanya siswa yang harus dilindungi tapi guru juga harus dilindungi. Sejalan dengan hal di atas, walaupun belum memadai telah lahir Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2017 tentang
Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang secara teknis diatur dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Perlindungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam
Pelaksanaan Tugas. Oleh karena itu, penulis mengajak Pendidik dan Tenaga Kependidikan untuk mengenali aturan tersebut.

Oleh : ASEP ACHADIAT SUDRAJAT