Fri. Jun 5th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Din Syamsuddin Dorong Adanya Partai Politik Islam Tunggal

Bangka Tengah – RMNews.com: Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Bangka Belitung. Ia menyampaikan pandangannya terkait permasalahan umat Islam Indonesia dewasa ini, berikut strategi-strategi pemecahannya.

Salah satunya, Din menyorot perlunya partai politik Islam tunggal di Indonesia karena kehadiran partai tunggal dapat memperkuat perjuangan keumatan lewat jalur politik.

“Mendorong adanya partai politik Islam tunggal yang secara formal berfungsi sebagai kendaraan politik tokoh-tokoh umat Islam dan sarana artikulasi aspirasi politik umat Islam,” katanya dalam pemaparannya di salah satu sesi pleno kongres di Hotel Novotel Bangka and Convention Centre, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Jumat (28/2).

Menurut Din, era demokrasi telah memberikan kebebasan yang luas sehingga banyak muncul partai berbasis ideologi Islam, atau partai dengan basis massa Islam.

“partai-partai itu sebaiknya bersatu, bukannya berpecah dengan visi politiknya masing-masing. Hal itu memperlemah kebersamaan umat, sehingga betikutnya memperlemah kekuatan perjuangan politik umat Islam dan pada setiap pemilu, setiap pilpres mereka jalan masing-masing. Ini yang kemudian memporak-porandakan kebersamaan,” paparnya.

Din menawarkan dua opsi untuk ditempuh partai-partai Islam di Indonesia. Jika tidak lebur dan bergabung ke dalam satu partai, gagasan partai tunggal itu bisa juga diwujudkan melalui pembentukan koalisi strategis partai-partai Islam.

“Idealnya ada partai tunggal berhimpun semua di situ, kalau tidak, banyak partai tapi bersedia membangun koalisi strategis. Menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan umat Islam, mereka satu, sepakat,” tuturnya.

Selain dalam aspek politik, Din juga membahas perjuangan keumatan di bidang ekonomi, pendidikan dan budaya. Din mengulas permasalahan pada aspek-aspek tersebut dan memberikan opsi-opsi penyelesaiannya.

“Dalam bidang ekonomi, perlunya penguatan ekonomi umat melalui  pembentukan bank-bank umat, yang dikelola oleh umat Islam. Hal itu tersebut bisa memecahkan kebuntuan akses modal bagi umat Islam, sehingga bisa mengembangkan ekonominya. Sudah waktunya ada bank yang secara khusus yang dikelola oleh umat Islam untuk kepentingan umat Islam. Karena saya tahu persis, permasalahan umat Islam dalam bidang ekonomi, tidak punya akses ke dunia perbankan,” jelasnya.

Dalam bidang kebudayaan, Din memandang perlunya umat Islam di Indonesia membangun visi kebangsaan berdasarkan perspektif Islam. Sementera di bidang pendidikan, Din menekankan perlunya revitasasi pendidikan Islam, agar sesuai dengan tantangan zaman.

Din mencontohkan, salah satu pekerjaan rumah pendidikan Islam saat ini yaitu menghilangkan dikotomi atau sekat pemisah antara ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu umum.

“Dengan pemantapan landasan ontologis, kerangka epistemologis, dan orientasi aksiologis ilmu-ilmu pengetahuan, maka Sistem Pendidikan Islam akan dapat menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu keduniaan,” tuturnya.

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kegiatan ini berlangsung selama 26 – 29 Februari, bertempat di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kongres ini diikuti para pengurus MUI seluruh Indonesia, perwakilan organisasi Islam, ulama, unsur pondok pesanteren, hingga unsur perguruan tinggi.

Dalam kegiatan kongres ini, para ahli agama atau cendikiawan akan membicarakan berbagai topik, berikut membentuk tawaran-tawaran solusi yang akan disampaikan kepada pemerintah. Topik itu menyangkut pendidikan, ekonomi, budaya, hukum dan sosial.

Adapun pembahasan-pembahasan itu akan dilakukan dalam bentuk focus group discussion, panel, serta dialog ulama/cendikiawan dari beragam latar lembaga atau organisasi, seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Dewan Masjid Indonesia, dan lain sebagainya.

Pembahasan-pembahasan itu nantinya akan mengkrisltal dalam wujud Deklarasi Bangka, yang akan dimunculkan pada akhir kegiatan kongres. (Fs/Ips)