Mon. Jun 1st, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Event Idul Fitri dan Pandemi Jangan Di Jadikan Ajang Aji Mumpung

Marketing di era milenial ini fokus pada pelanggan. Hal ini mengandung pengertian bahwa marketing itu mampu memuaskan pelanggan dengan cara yang menguntungkan. Sejatinya marketing itu dapat mengatasi permasalahan pelanggan dengan cara memberikan solusi dari produsen ke hati pelanggan.

Berdasarkan konsep tersebut, maka sebenarnya yang dipasarkan oleh produsen itu apa sih?. Jawabannya seperti yang dikutip dari Kotler (2013), bahwa ada 10 (sepuluh) entitas yang dipasarkan pihak perusahaan yaitu: barang, jasa, acara (event), pengalaman, orang, tempat, properti (hak kepemilikan), organisasi, informasi, dan ide.

Pemahaman pada umumnya di masyarakat bahwa yang dipasarkan oleh perusahaan selalu yang tertanam di mindsetnya tidak jauh dari barang wujud dan jasa yang tidak berwujud. Padahal dalam marketing pandangannya sangat luas tidak hanya barang berwujud dan jasa tidak berwujud, akan tetapi seperti yang dijelaskan Kotler di atas ada 10 entitas, salah satu di antaranya yang menarik saat ini di gali adalah event (acara,agenda, peristiwa pada periode waktu tertentu).
Event merupakan suatu agenda kegiatan, festival tertentu, untuk merayakan, untuk memperingati hal-hal penting yang diselenggarakan pada waktu tertentu.

 

Kaitannya dengan event Idul Fitri dan event Pandemi Covid 19 ini merupakan sebuah entitas yang dapat dipasarkan oleh perusahaan. Jka kita amati secara seksama pada event Idul Fitri pihak perusahaan sebenarnya tidak menjual pakaian, tidak menjual kue kering, sirop, buah Kurma, Ketupat, Daging Sapi, Daging Ayam, Parsel,dan banyak lagi, akan tetapi sebenarnya disadari atau tidak yang dipasarkan oleh pihak perusahaan adalah event Idul Fitri.

Hal itu dapat kita lihat dari sebuah analisis sederhana bahwa masyarakat dalam hal ini pelanggan ketika hari biasa apakah mereka lebih banyak membeli pakaian, Kue Kering, Sirop, Buah Kurma, Ketupat, Daging Sapi, Daging Ayam, Parsel ?. Tentu jawabannya tidak.

Oleh karena itu sebenarnya yang dibeli oleh masyarakat itu tidak lain adalah event Idul Fitrinya, disadari atau tidak itu sudah sangat melekat di benak bahkan di hati masyarakat. Masyarakat yang merantau membeli tiket kereta api, pesawat terbang, tiket bus, dan tiket travel untuk mudik, itu senyatanya yang dibeli bukan tiket, tetapi event Idul Fitri.

Jika kita memahaminya dengan sebenar-benarnya, maka kita akan mampu memunculkan daya kreatif dan inovatif kira-kira produk apa yang cocok dipasarkan pada masa menyambut Idul Fitri ini.sehingga apapun produk atau jasa yang dipasarkan sebenarnya event Idul Fitri.

Contoh fenomena selain Idul Fitri, misalnya ketika musim liga sepak bola, bermunculan trend produk dengan tema bola seperti kaos bola, sepatu bola, jam tangan bola, stiker kendaraan dengan motif bola, bisa jadi pakaian dalam pun bermotif bola. Coba kita telaah, yang dibeli masyarakat sebenarnya bukan kain kaos, jam tangan,sepatu bola, dan stiker tetapi event liga bolanya yang dibeli.

Oleh karena itu, di dalam marketing tidak hanya pada wujud produk atau jasa yang dipasarkan tetapi banyak entitas salah satunya event.
Begitu juga dengan fenomena sekarang kisaran waktu antara Bulan Maret, April, Mei, dan Bulan Juni 2020 terkait pencegahan, dan pengobatan dari Virus Corona atau Covid- 19.

Banyak perusahaan dari yang berskala besar, mnengah sampai skala kecil berusaha memasarkan produk-produk kesehatan baik itu makanan, minuman, pakaian, dan produk lainnya termasuk layanan jasa kesehatan, dan layanan antar barang. Itu semua sejatinya perusahaan memasarkan event Pandemi Covid-19, termasuk layanan iklan dan layanan aplikasi di dalam Smartphone senyatanya mereka memasarkan event Pandemi Covid 19. Begitu dahsyatnya jika yang dipasarkan event, bukan lagi produk atau jasa yang pada akhirnya setiap perusahaan berupaya untk lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan event tersebut,sehingga apapun produk atau jasanya selalu dikaitkan dengan event yang terjadi.

Ilmu marketing jelas-jelas mengajarkan bahwa “customer is the riil boss” pelanggan adalah raja. Memposisikan pelanggan yang utama, maka yang dipasarkan perusahaan bukan semata barang atau jasa tapi solusi. Maka mindset perusahaan terhadap event harus bahkan wajib itu solusi. Oleh karena itu janganlah event tersebut dalam hal ini event Idul Fitri 1441 H/2020 M, dan event Pandemi Covid 19 ini dijadikan sebagai ajang untuk menjual, akan tetapi harus dijadikan ajang untuk memasarkan solusi, sehingga tidak membabi buta, jangan dijadikan aji mumpung event ini.

Muncul pertanyaan, kenapa kedua event ini tidak boleh dijadikan aji mumpung sehingga memababi buta, kenapa harus memasarkan, bukan menjual?. Jawabannya bahwa dalam ilmu marketing utamakan kepuasan pelanggan (customer satisfaction), melalui perhatian pada nilai pelanggan yang unggul (customer value), yang di dalamnya perusahaan wajib memperhatikan kualitas produk, kualitas pelayanan, harga yang kompetitif, saluran distribusi yang lebih dekat dan cepat kepada pelanggan, komunikasi yang efektif, sehingga mampu membentuk sebuah komitmen pelanggan yang kuat (comitment), ahirnya secara kognitif dan afektif membentuk sebuah kepercayaan pelanggan yang kuat dan tinggi (customer trust), yang berimplikasi dalam jangka panjang terbentuk pelanggan yang loyal terhadap tawaran perusahaan (customer loyalty).

Mari kedua event tersebut kita jadikan solusi untuk pelanggan, kita memasarkan solusi, bukan menjual solusi, harapannya terbentuk sebuah hubungan yang secara emosional sangat kuat dan positif sehingga perusahaan memiliki jaringan pelanggan yang hebat, luas dan kuat, karena senyatanya dalam bisnis itu ujung tombaknya bukan lagi memasarkan produk atau jasa, akan tetapi mengelola jaringan pelanggan agar pelanggan tetap loyal terhadap perusahaan kita tidak berpaling kepada pesaing.

Insya Allah jika event Idul Fitri dan event Pandemi Covid 19 ini benar-benar dijadikan solusi oleh perusahaan, maka perusahaan akan mendapatkan keberkahan dalam berbinis, keberkahan dalam ibadah, keberkahan keluarga, keberkahan menolong sesama manusia, keberkahan silaturahmi, keberkahan alam dan lingkungannya dan keberkahan lainnya karena solusi di sini merupakan wujud positif dari barang dan atau jasa yang dipasarkan, wujud kejujuran dalam bertindak terutama dalam menolong sesama. Solusi In sya Allah tidak akan menghianati hasil dalam bisnis jangka panjang. (Udin Ahidin-Unpam)

 

Oleh: Udin Ahidin
Dosen Program Studi Manajemen S-1 Fakultas Ekonomi
Universitas Pamulang