Tue. Jul 14th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Antara WFH, New Normal dan Biaya? Ada Strategi di Setiap Upaya

Foto: Anum Nuyani, Dosen Universitas Pamulang.

NEW NORMAL siapakah yang belum tahu istilah tersebut?
New normal merupakan sebuah istilah dalam bidang bisnis dan ekonomi yang merujuk pada kondisi-kondisi keuangan seperti usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008-2012 dan pandemi Covid-19.

Pada dasarnya new normal merupakan tahap pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada tahap ini masyarakat diperbolehkan melakukan aktivitas kembali dengan protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Apakah new normal akan membuat pekerja work from home kembali ke kantor?
Work From Home meberikan pandangan baru mengenai dunia kerja. Pekerjaan tidak melulu dapat dikerjakan di kantor saja, namun bisa juga dilakukan di rumah. Berbagai biaya muncul dan tenggelam. Para pekerja memiliki biaya yang timbul atau naik akibat kebijakan work from home.

Biaya yang muncul atau naik antara pekerja satu dan lainnya akan berbeda, bergantung dari penggunaan (utilitas) masing-masing, namun secara umum biaya tersebut meliput:
1. Biaya Internet
Penggunan internet akan berbeda antara pekerja yang memiliki Internet Service Provider (ISP) dan tethering dari HP. Penggunaan provider GSM menunjukan perbedaan biaya karena produk setiap prodvider berbeda satu dengan yang lain. Selain dari sisi produk, pengaruh signal di rumah para pekerja juga mempengaruhi pemilihan provider. Sebagai contoh panggil saja Fey seorang pekerja di bidang quality sector telekomunikasi biaya internet GSM yang biasanya hanya Rp. 100.000,00 – Rp 200.000,00 menjadi Rp. 500.000,00 perbulan selama WFH.
2. Biaya listrik
Biaya listrik apakah sama, tentunya beda tergantung dari daya dan biaya per-kwh-nya, namun sudah dipastikan ketika laptop tertancap terus pada adaptor, otomatis penggunaan listrik bertambah sehingga biaya naik. Contoh saja Fey yang biaya listriknya sebulan hanya sekitar 130-140 ribu menjadi 200 ribu perbulan.
3. Pembelian asset (seperti laptop)
WFH memaksa para pekerja untuk menggunakan perangkat elektronik pendukung seperti laptop. Pekerja yang belum punya Ketika perusahaannya menerapkan kebijakan WFH. Mau tidak mau, harus membeli perangkat tersebut.
4. Fashion
Kenapa fashion masuk biaya, jelas, untuk pergi ke kantor, haruslah rapi dan tak jarang ada yang sengaja membeli baju agar setiap minggu terlihat beda. Dengan WFH tak masalah menggunakan baju dengan model sama terus.
Lalu adakah biaya yang hilang atau turun?
Tentu saja ada, apa saja sih biaya nya?
1. Biaya Transportasi (angkutan umum)
Dikarenakan di rumah, tidak pergi ke kantor otomatis tidak ada ongkos naik kendaraan umum, krl, angkot, bus, ojol dan lain sebagainya.
2. Biaya Bensin
Bagi yang memiliki kendaraan biaya ini akan berkurang dari yang tadinya selalu membeli bensin 1 liter untuk 2 atau 3 hari pergi ke kantor. Bisa jadi 1 liter untuk 2 minggu.
3. Biaya Parkir
Biaya parker pun tidak ada karena tidak melakukan berpergian dan tidak memarkirkan kendaraan di tempat parker. Kendaraan terpakir bebas di dalam garasi.
4. Biaya perawatan kendaraan
Karena intensitas penggunaan kendaraan berkurang, maka perawatannya pun berkurang. Yang sebelumnya selalu cuci motor setiap weekend. Karena WFH motor tetap cantik di garasi.

Jadi manakah yang lebih efisien dari sisi para pekerja?
Tidak hanya perusahaan namun para pekerja juga akan memperhitungkan biaya-biaya. Beberapa pekerja melakukan komparasi dari biaya. Akumulasi biaya yang dikeluarkan saat bekerja di kantor akan dikomparasi dengan biaya yang dikeluarkan saat bekerja di rumah. Biaya yang relatif lebih kecil akan dipilih dalam melakukan pekerjaan.
Apa kabar dengan biaya di perusahaan, bagaiaman para manajemen menyikapi hal tersebut?
Kabar biaya di perusahaan tentu tetap ada, bagi perusahaan yang memberlakukan work from home, akan melakukan analisa biaya-biaya. Seperti yang kita ketahui bahwa biaya-biaya di suatu perusahaan terdapat fixed cost dan variable cost. Saat diberlakukannya work from home, maka biaya di perusahaan yang meliputi sewa, internet serta gaji akan tetap dibayarkan. Namun biaya variable seperti biaya listrik, biaya telepon akan terindikasi mengalami penurunan karena kurangnya penggunaan.

Manajemen akan melakukan komparasi terhadap pengeluaran biaya-biaya. Biaya-biaya akan dilakukan forecasting jika penerapan work from home dilakukan secara berkelanjutan. Seperti kita ketahui bahwa manajemen akan berusaha mengeluarkan biaya sekecil mungkin namun produktifitas meningkat sehingga bisa tercapai tujuan perusahaan.
Efisiensi biaya dan produktifitas pekerja menjadi nilai yang diperhatikan Ketika berlangsungnya WFH. Bahkan biaya tetap seperti biaya sewa gedung bisa dikurangi bahkan dihilangkan ketika kegiatan operasional bisa berjalan dengan para pekerjanya melakukan pekerjaan dari rumah.

Bagaimana Ketika work from office diterapkan saat new normal. Dari segi biaya akan ada tambahan baik dari sisi para pekerja maupun perusahaan. Bagaimana tidak, wacana akan adanya kenaikan tarif angkutan sudah pasti ketika diterapkan maka biaya transportasi akan naik menjadi 100% bahkan lebih. Mengapa demikian, pengaturan terkait angkutan umum yang hanya memperbolehkan mengangkuta 50% dari muatan akan disesuaikan dengan tarifnya juga. Misal angkutan umum perkotaan atau angkot berkapasitas 10 penumpang, ongkos setiap penumpang yakni Rp. 5.000,-. Jika angkot tersebut hanya bisa membawa maksimal 5 orang maka bisa jadi ongkosnya menjadi Rp. 10.000 / orangnya.
Dari sisi perusahaan akan ada tambahan biaya juga tentunya, ketentuan melakukan flexible work space atau jaga jarak untuk setiap work station (WS) memakasa agar dilakukan perluasan ruangan. Perluasan ruangan tentunya membutuhkan biaya sewa. Penyediaan pendukung kesehatan seperti sabun cuci tangan, hand sanitizer akan menjadi biaya rutin.
Perhitungan biaya setiap perusahaan bisa jadi berbeda. Bergantung pada jenis industri dan kegiatan yang dilakukan. Masih ada biaya-biaya yang belum dipaparkan. Namun, menghadapi new normal diperlukan strategi. Baik dari sisi pekerja maupun perusahaan guna tetap berjalannya kegiatan operasional secara efisien dan produktif yang menguntungkan bagi semua pihak.

Penulis : Anum Nuyani
Dosen Universitas Pamulang