Tue. Jul 14th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Isi Waktu Luang di Tengah Pandemi dengan Budidaya Ikan Dalam Ember

VIRUS Corona masih belum juga pergi, semua orang pasti akan mengalami kebosanan karena ketidakpastian sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisnis yang sudah dijalankan bertahun-tahun pun banyak yang terdampak, ratusan ribu karyawan di PHK sehingga mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.
Langkah yang masih bisa dilakukan saat ini adalah dengan menjalankan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan perdagangan secara daring. Pusat perbelanjaan yang tadinya sebagai tempat cuci mata, refreshing untuk window shopping sudah dihindari untuk dikunjungi karena saat ini sesuai anjuran pemerintah langkah untuk mengurangi terpaparnya COVID-19 adalah menghindari keramaian.

Jenuh, bosan, lelah dan frustasi tentu banyak menghinggapi pikiran banyak orang. Hidup sudah tidak lagi normal, kemana-mana harus memakai masker, membawa hand sanitizer, sabun cuci tangan, tisu basah, bahkan memakai sarung tangan. Belum lagi setelah pulang dari bepergian kita harus cuci tangan dan langsung mandi mengganti pakaian yang tadi kita pakai sebelum berinteraksi dengan orang rumah, karena kita sayang mereka.

Ya Tuhan, sampai kapankah wabah pandemi ini akan berakhir? Apalagi dengan adanya berita terbaru bahwa Kemendikbud yang menginformasikan bahwa belajar di rumah akan diperpanjang sampai dengan akhir tahun 2020. Pasti banyak orang yang frustasi dan stres, apalagi ibu-ibu yang punya anak masih bersekolah, sepertinya PR anak mereka juga PR ibunya.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita lakukan dengan menyalurkan hobby masing-masing, ada yang hobby menulis, membaca buku, menonton drama seri, becocok tanam, beternak, mengoleksi tanaman hias, memasak dan lain sebagainya. Hobby yang kita biasa lakukan itu sebenarnya bisa dikembangkan menjadi bisnis sehingga dapat menjadi tambahan penghasilan bagi yang sudah punya penghasilan bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadi penghasilan utama sehingga kita bisa survive di masa sulit ini.

Kita harus berpikir bagaimana cara bertahan hidup, bagaimana keluarga tetap bisa makan. Krisis pangan menghantui Indonesia sebagai dampak pandemi saat ini. Banyak upaya dilakukan berbagai pihak guna mengantisipasinya.

Masyarakat mulai melakukan penghematan dengan menanam bahan pangan lokal, gerakan beli hasil tanaman pangan petani lokal juga kembali dicanangkan. Perlu menjamin ketahanan pangan, ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan.

Di tengah pandemi corona yang serba sulit, Budi Daya Ikan Dalam Ember (Budikdamber) bisa menjadi pola bisnis perikanan sederhana di masa depan. Biaya pembuatan Budikdamber juga sangat terjangkau dibandingkan dengan teknik pembuatan kolam ikan kovensional. Ikan yang dipilih adalah ikan lele, patin, sepat, betok, gabus, dan gurame, yang tahan dengan oksigen rendah, sangat kuat dan tidak memerlukan mesin gelembung udara. Budikdamber juga dapat dikombinasikan dengan aquponik sederhana yaitu dengan menanam kangkung, selada, dan kemangi diatasnya yang ditanami dengan media arang di dalam gelas plastik yang diberi kawat dan dikaitkan di sekeliling ember.

Langkah ini juga sangat baik untuk pemenuhan kebutuhan sayur, tidak perlu membeli di warung dan tentunya ini sangat menyenangkan karena dari hasil budidaya sendiri.
Budidaya ikan dalam ember dengan sistem aquaponik berpeluang meningkatkan kebutuhan akan protein hewani dan sayuran serta memudahkan masyarakat mendapatkan ikan dan sayur di lingkungan tempat tinggal. Dengan begitu, kita tidak perlu menyimpan ikan dan sayuran di dalam kulkas, tinggal ambil langsung dari ember kapan kita membutuhkan. Cara ini sangat baik dikembangkan di rumah-rumah, panti asuhan dan tempat-tempat pengungsian karena bencana atau daerah perkotaan dengan lahan sempit.

Kegalauan dan kebosanan ini akhirnya memberikan suatu keinginan untuk mengisi waktu senggang. Diawali dengan membaca dan meononton video dari youtube tentang Budikdamber, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba beternak Budikdamber dengan kombinasi menaman sayuran kangkung, selada dan kemangi di lahan taman belakang rumah. Seorang teman dosen memperkenalkan saya dengan seorang alumni mahasiswa Unpam yang sudah lulus S2, Ruben Gotlif Aunisuni, S.E., M.M. Pemuda asal Kupang NTT ini bertarung hidup di pulau Jawa untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Walaupun sudah bekerja di Yayasan Hope, dia tetap ingin berwirausaha dengan cara mengembangkan usaha Budikdamper. Usaha ini dia lakukan semenjak PSBB.

Dalam kurun waktu 3 bulan dia sudah berhasil menjual kira-kira 5000 bibit lele.
Ruben panggilan akrabnya dengan senang hati mau mengajarkan dan memberikan tips cara beternak lele dalam ember dengan kombinasi sayuran di atasnya. Dengan perlengkapan yang sederhana dan modal yang tidak terlalu besar kita bisa beternak Budikdamber. Selain mudah dilakukan, Budikdamper menggunakan media yang tidak terlalu besar, portabel, hemat air dan tidak membutuhkan listrik.
Waktu panen pertama tanaman kangkung adalah 14-21 hari sejak ditanam. Saat panen sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali. Panen ke-2 dan selanjutnya berjarak 10-14 hari sekali. Panen kangkung bisa bertahan 4 bulan. Sedangkan untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 4 bulan, bila benih bagus dan pakan baik. Perlu diketahui tingkat bertahan hidup (survival rate) ikan lele adalah 80-90%. Setiap 1 liter air diisi dengan 1 ekor ikan, jadi dengan ember beukuran 80 liter air bisa dimasukkan sekitar 80 ekor bibit lele. Bila bertahan hidup 90% maka pada saat panen akan menghasilkan 70 ekor lele siap panen yang artinya sama dengan 10 kg lele siap jual. Menarik bukan?

Bagaimana menurut Anda Budikdamber ini? Pastinya akan menyenangkan di saat panen nanti. Anda berminat? Silahkan mencoba, karena tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang bermanfaat. Selamat mencoba

 

Oleh: Rahmi Hermawati, S.Pd., M.M, CHRA
Dosen Manajemen, Universitas Pamulang