Thu. Jul 9th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Mengharukan, Saya Tak Bisa Bernapas

Foto: Triyadi, Dosen Universitas Pamulang.

Beberapa hari terakhir ini negara adidaya Amerika sedang menghadapi gelombang kerusuhan massal akibat terbunuhnya seorang lelaki kulit hitam berusia 46 tahun, George Floyd, pada senin 25 Mei 2020.

Ia dituduh membeli barang dengan menggunakan uang palsu di sebuah supermarket di bilangan Mineapolis.
Kejadian ini berawal dari laporan seorang karyawan menelepon 911 dan menuduh Floyd membeli rokok dengan uang kertas $20 palsu.

Beberapa saat kemudian 4 orang polisi menahannya. Memborgol tangannya, menyeret dari dalam mobil polisi, hingga ia jatuh tertelungkup lalu salah seorang polisi menindih leher dengan menggunakan lutut. Videonya sudah tersebar kemana-mana dan membakar kemarahan siapa saja yang melihatnya.
Videonya mengharukan. Membuat kita meneteskan air mata bercampur rasa geram. Tak habis pikir mengapa begitu tega polisi bertindak sadis terhadap orang yang sudah menyerah dan tidak melakukan perlawanan sama sekali. Terlihat sekali tindakan sewenang-wenang empat polisi Mineopolis, terutama polisi bernama Derek Chauvin yang dengan lututnya menindih leher George Floyd selama lebih dari 8 menit. Sampai akhirnya George kehabisan napas dan meninggal.

Di dalam video tersebut, George yang malang sudah berkali-kali memohon agar lehernya tidak ditindih karena ia sulit bernafas. “I can’t breath…I can’t breath (Saya tak bisa bernafas….saya tak bisa bernafas),” ujar George berulang-ulang di ujung kematiannya. Tetapi permohonannya tak digubris. George akhirnya terkulai lemah, meninggal di menit kelima dari sekitar 9 menit lehernya ditindih oleh polisi bernama Derek Chauvin.
Setelah videonya viral, meledaklah kemarahan rakyat Amerika, terutama kaum kulit hitam, yang selama ini memang sering diperlakukan dengan tidak adil oleh aparat hukum. Terjadi kerusuhan, penjarahan dan pembakaran masal di berbagai kota di Amerika Serikat. Diskriminasi rasial ternyata tak berhenti di negara semaju Amerika.

Negara yang mengklaim dirinya paling demokratis tersebut ternyata mempunyai borok besar terkait isyu diskriminasi. Negara yang selama ini dianggap ‘dewa’nya HAM ternyata minyimpan banyak penjahat HAM.
Apa yang terjadi di Amerika merupakan gambaran bagi kita, jangan pernah bermain-main dengan ketidakadilan diskriminasi rasial. Untuk konteks Indonesia jangan pernah menganggap enteng ketidakadilan tentang SARAP (Suku, Agama, Ras, Antar golongan dan Politik).
Ironis memang, semakin maju teknologi, tapi justru semakin primitif dalam mengelola hubungan sosial. Eksklusifitas, intoleransi, radikalisme dan peperangan meningkat atas nama SARAP di berbagai penjuru dunia. Kita makin tak pandai mengelola perbedaan-perbedaan di antara kita. Tak ada lagi penghormatan kepada yang mayoritas dan kemauan yang kuat untuk merangkul yang minoritas. Para pemimpin dunia semakin kekanak-kanakan. Tak dewasa mengelola perbedaan atas nama SARAP, baik di dalam negeri maupun dengan negara lain. Itulah yang kita lihat sekarang ini di banyak negara.
Ucapan lirih George Floyd ‘Saya tak bisa bernafas’ di ujung kematiannya bisa kita anggap sebagai ‘tagar’, betapa dunia sekarang penuh sesak dengan tragedi kemanusiaan akibat para pemimpinnya gagal mengelola perbedaan. Sehingga seakan kita sulit bernapas, sulit hidup aman dan damai atas nama kemanusiaan yang universal.

 

Oleh : Triyadi
Dosen Universitas Pamulang