Tue. Sep 29th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Adu Balap di Tengah Pandemi Corona: Uang atau Barang?

Foto: Hadijah Febriana, S.E., M.M, Dosen Universitas Pamulang.

AWAL tahun 2020 negara Indonesia dikhawatirkan dengan pemberitaan tentang virus Corona (covid 19) yang mana sebelumnya virus ini pertama kali berasal dari Wuhan China. Dengan penularan virus Corona yang sangat cepat sehingga korban akibat virus ini pun juga terus bertambah setiap harinya. WHO mencatat sampai saat ini 5 Juni 2020 terdapat 6,515,796 kasus Covid 19 yang terkonfirmasi, termasuk 387,298 meninggal diantaranya.

Untuk menghindari penyebaran virus Corona, Pemerintah mengambil keputusan dan kebijakan untuk menutup semua fasilitas umum dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan seperti sarana pendidikan, sarana perkantoran, tempat hiburan seperti Mall, tempat ibadah dan sarana lainnya yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar dan berdekatan.
Untuk mengantisipasi penutupan fasilitas umum tersebut, sarana pendidikan seperti sekolah, kampus menerapkan system belajar Learning From Home, Elearning untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajarnya bagi siswa, mahasiswa, guru dan dosen.

Untuk sarana perkantoran sendiri, perusahaan-perusahaan menerapkan kebijakan WHF ( Work From Home ), dikutip dari Media Indonesia Per 30 April 2020 setidaknya ada 3,914 Perusahaan sudah menerapkan WFH dengan jumlah karyawan mencapai 1,057,631 orang.

Lalu bagaimana dengan pekerja harian? atau pedagang kecil dan pekerja serabutan? bagi mereka yang mengandalkan upah harian dan bergantung pada aktifitas bisnis dan perdagangan jika tidak bekerja atau mendapatkan pekerjaan tentu akan berimbas pada pendapatan yang akan diterima dan ini akan mempengaruhi pada pemenuhan kebutuhan utama mereka dan keluarganya yaitu kebutuhan akan Pangan / Makanan.

Dengan ditutupnya sarana umum dan berhentinya roda perekonomian beserta aktifitasnya tentu akan berakibat pada dunia bisnis dan pendapatan dunia usaha. Tentu hal ini akan membuat perusahaan untuk mengecangkan ikat pinggang, untuk mengamankan core bisnis mereka. Tak sedikit dari perusahaan yang melakukan pengurangan karyawan, atau sampai Memberhentikan karyawannya atau PHK.

Mengutip laman CNN Indonesia, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa. Angka itu lebih besar dari jumlah yang sudah dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sebanyak 2,8 juta per 20 April lalu. Sebab, kata Suryani jumlah itu belum ditambah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang juga ikut terdampak.

Dampak dari virus Corona atau covid 19 ini sangat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Hadirnya wabah Corona ini membuat ekonomi jatuh bahkan mampu membuat ekonomi berhenti. Pada buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) menyebutkan kondisi ini berdampak pada penurunan harga komoditas secara signifikan dan menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar keuangan global dan volatilitas aliran dana di negara berkembang. “Dalam waktu singkat, dampaknya terasa di pereknomian Indonesia baik di perdagangan, pariwisata dan investasi, ” dikutip dari buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK), selasa (28/4/2020).

Melemahnya pereknomian di Indonesia menyebabkan pelaku ekonomi berhati-hati dalam membuat keputusan ekonomi. Kehati-hatian tersebut mendorong pelaku ekonomi untuk menyimpan dananya daripada menggunakan dananya. Dikutip dari laman CNBC Indonesia nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah diperdagangan pasar spot Hari ini, masih di dekat level Rp 14.000/US$. Pada kamis (4/6/2020), US$ dibanderol RP 14.060/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya rupiah sempat melemah 0,71% di RP 14.150/US$, Dan sempat menguat 0,14% di RP 14.030/US$.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi virus corona di Indonesia akan berakhir pada akhir 2020 dan masyarakat akan bisa kembali ke kehidupan sebelumnya serta melakukan perjalanan wisata.

Dengan kondisi tersebut dan kita dihadapkan pada periode Corona yang diprediksi akan berakhir pada akhir 2020, tentu akan berimbas kepada aktifitas perekenomian kita, aktifitas perdagangan, jual beli dan aktifitas perekonomian lainnya yang tentu saja akan membuat kita berpikir ulang dalam merencanakan dan mengelola keuangan kita. Kita akan dihadapkan pada kondisi dimana Uang dan Barang akan bergerak cepat, saling berbalapan, siapa yang akan habis duluan atau siapa yang akan bertahan paling akhir. Uang kah atau Barang kah ?
Dikutip dari laman Bisnis.com Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi Mei 2020 yang berada di level 0,07 persen month to month (m-t-m). Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi mengatakan inflasi Mei 2020 yang rendah tersebut terjadi karena melemahnya permintaan masyarakat.

Saat ini masyarakat lebih memilih untuk menyimpan uang dalam bentuk tabungan atau cash demi menjaga keberlangsungan hidup ditengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan pendapatan yang terjadi imbas dari wabah Covid19. Terlebih dengan adanya ancaman PHK yang membuat masyarakat harus bersiap siap menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu kehilangan mata pencaharian .

Demikian pun dengan barang, saat ini kita lebih memilih untuk mengalokasikan uang untuk membeli barang yang dirasa diperlukan saja dan lebih berhati hati dalam membelanjakan barang agar uang yang kita miliki setidaknya dapat bertahan sampai Covid ini berakhir.

Dengan kondisi seperti ini tentu perputaran barang menjadi lambat di pasaran karena menyesuaikan dengan pola konsumsi masyarakat saat ini. Pengusaha, Produsen dan Perusahaan pun tentu akan menyesuaikan supply barang ke masyarakat demi menghindari penumpukan barang di pasar yang tentu akan berimpact ke cash flow mereka dan tentu saja masa expired barang tersebut demi menghindari kerugian yang lebih massive lagi akibat Corona ini .
Bila keadaan seperti ini terus berlanjut, kira kira manakah yang akan habis duluan, Uang kah ? Barang kah ? atau malah kita sebagai konsumennya ?
Judul: Adu Balap di tengah pandemic Corona: Uang atau Barang?

Oleh: Hadijah Febriana, S.E., M.M
Dosen Universitas Pamulang