Tue. Oct 27th, 2020

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Ironis, Bangun Pagar Dilahan Milik Pribadi Malah di Tolak?

Pangkalpinang – Malang tak bisa ditolak, harapan ingin memagar lahan miliknya berjalan dengan mulus, tapi justru mendapatkan aksi penolakan. Itulah kondisi yang dialami pemilik lahan di kawasan kota Pangkalpinang.

Lahan lapangan sepak bola Semada Kelurahan Bacang, Kecamatan Bukit Intan, kota Pangkalpinang berdasarkan Setifikat Hak Guna Bangun nomor : 29.01.04.02.3.01102 adalah milik Prof DR.Dr. Suryapranata Haryanto SpJt yang di kuasakan kepada Sani (keluarga/Jakarta) bermaksud untuk membagun pagar di area lahan tersebut, pada hari Jumat, (16/10/2020).

Dengan mengantongi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) No.01208/IMB-BG/DPMPTSP&NAKER/X/2020 tertanggal 16 Oktober 2020, Atas Nama Pemohon Prof. Dr. DR. Suryapranata Haryanto SpJt, Jenis Bangunan Pagar beralamat JL. Depati Hamzah Kel. Bacang, Kecamatan Bukit Intan Kota Pangkalpinang yang di keluarkan oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP&NAKER).

Dengan berbekal IMB tersebut Sani menghubungi pihak pemborong yang diwakili oleh Ragil untuk mengerjakan pagar dan telah menghubungi pihak Kelurahan Bacang Babinkamtibmas, Babinsa  juga LPM kelurahan bacang dan RT RW. Karang Taruna.

Kegiatan pemagaran yang di hadiri Lurah Bacang, LPM Bacang, Babinkamtibmas, Babinsa Kelurahan Bacang, RT, serta warga sekitar lapangan semada.

Pekerjaan yang belum juga dimulai terjadi penolakan oleh H. Rustam Mastari yang mengatasnamakan warga Air Itam mengklaim lahan lapangan sepak bola tersebut adalah milik masyarakat kelurahan Air Itam dan kelurahan Bacang, dengan nada tinggi menolak pembangunan pemagaran lahan sepak bola semada tersebut.

Aksi penolakan yang dilakukan H. Rustam Mataris dengan mengusir Pemborong Ragil yang ingin mengerjakan pagar bangunan tersebut dengan mengatakan “Pergi Kamu dari sini kalau tidak saya bakar”.

Doni Manurung Kuasa hukum masyarakat air itam mengatakan tolong Jangan pagar dahulu karena ini masih dalam proses hukum, dan saya sudah melaporkan ke PTUN, tunggu proses hukum yang berlaku.

Di tempat terpisah Sani saat dihubungi rekan-rekan media Sabtu (17/10/2020) memalui hubungan telp cellurer mengatakan Benar kami ini ingin membuat pagar guna untuk ketertiban keindahan dan keamanan kenyamanan kota Pangkalpinang, dan kami akan berikan penerangan lampu dan rencana kedepan ya akan di gunakan untuk kuliner dimana para pedagang bisa menjajakan dagangannya itukan dapat membantu warga kelurahan bacang dan air itam apabila ingin berdagang di dalamnya. Meningkatkan ekonomi kerakyatan dan mengharumkan khususnya kelurahan Bacang akan tertib hukum.

Sani menjelaskan Setelah membaca di salah satu media online  yang memberitakan “masyarat Usir Pekerja Pemagar Lapangan Sepak Bola Air Itam”, Kami ini pemilik lahan tersebut berdasarkan sertifikat dan kami juga memiliki IMB untuk membangun pagar apa hak Rustam Mataris melarang pekerja pemasang pagar?.

“Aneh !! Bangun Pagar Dilahan Milik Pribadi di Tolak oleh Rustam Mataris dan Doni Manurung SH”, kata sani

Lebih lanjut Sani  mengatakan Doni Manurung SH yang tiba-tiba tampil sebagai pengacara yang  mengatas namakan Laskar Gerindra. dimana dari penjelasan dari DPP Partai Gerindra bahwa Doni Manurung tidak diperbolehkan menggunakan atribut Partai Gerindra.

Doni Manurung menjelaskan bahwa tanah dalam sengketa adalah salah besar yang benar adalah Doni Manurung melaporkan  kepemilikan tanah tersebut jadi bukan dalam sengketa dan tidak ada sengketa. Jelas Sani

Sani menambahkan Doni Manurung SH juga menyatakan bahwa pemilik tidak boleh membangun pagar karena dalam sengketa adalah salah karena laporan ke polisi yang dilakukan oleh Doni Manurung belum ada kekuatan hukum dari pengadilan yang menggugurkan.sertifikat yang saat mau dibangun pagar tanggal 16 Oktober 2020 adalah milik yang sah dari Prof DR Dr Haaryanto Surayapranata SpJt.

Doni Manurung SH melangkah terlalu jauh sebagai penegak hukum tampaknya kurang mengerti hukum. Doni Manurung juga memasuki tanah milik orang lain tanpa ijin. Tutup Sani. (Mon)