Mon. Mar 1st, 2021

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Pengamat RR Nilai Ulama Wafat dan Bencana Bukti Pesan Sang Pencerah

Rakyatmerdekanews.com – Jakarta – Pengamat kebijakan publik, Rinaldi Rais, melihat fenomena lain antara beruntunnya kematian banyak ulama dengan bencana alam di Indonesia. Menyusul pengumuman Menteri Keuangan, Sri Mulyani, segera mencari utang Rp 1.654 trilyun pada RAPBN 2021 memperbesar utang yang telah ada Rp 6.000 trilyun karena defisit anggaran.

“Ada aroma relijius mengamati fenomena kedukaan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang entah berujung dimana. Apakah Indonesia akan teraneksasi oleh asing, di tengah kekayaan sumberdaya alam menyongsong bonus demografi pada 2030-2040?” ujar penulis Catatan Tercecer RR itu kepada media, Minggu (17/1).

Alasannya, pengamat Rinaldi Rais meyakini maraknya bencana alam menyebar di Indonesia memiliki benang merah dengan wafatnya para ulama berturut-turut sebagai pertanda bakal ada bencana besar. “Ibarat merenovasi rumah, sang pemilik dipastikan mengeluarkan atau menjauhkan barang-barang berharga dari bangunan yang akan dirobohkan,” ujarnya.

Faktanya, baru separoh Januari 2021 saja sudah tercatat 17 ulama garis lurus diwafatkan bahkan menjadi 295 ulama digabung catatan sepanjang 2020. “Berarti ilmu-ilmu terkait akhlak mulia dalam kehidupan manusia yang dikuasai para ulama itu dicabut Sang Khalik.”

Alam pun, diyakini Rinaldi Rais, ikut berduka. Mulai erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur, banjir longsor di Sumedang, gempa Mamuju di Sulawesi Barat, yang memunculkan puluhan bahkan ratusan ribu pengungsi.

Pesan Sang Kiyai

Fenomena relijius itu mengingatkan Rinaldi Rais akan sebuah pesan Sang Pencerah, Kiyai Ahmad Dahlan. “Apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik, maka baiklah alam; dan apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu rusak, maka rusaklah alam dan negara (masyarakat dan negara).”

Kalimat pendiri Muhammadiyah itu diungkap KRH Hadjid pada Halaman 59 dalam buku karya Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an (2018), terbitan Suara Muhammadiyah.

“Konteksnya terjadi pada bulan Maulud tahun 1335 Hijriyah. Ketika itu, di hadapan para penghulu, ketib (khatib), ulama, kiai, dan tokoh agama di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kiai Dahlan menerangkan kitab Hidayatul Bidayah karangan Imam Ghozali, tentang kerusakan umat Islam dan sifat-sifat ulama suu’ (ulama yang busuk),” ujar Rinaldi, praktisi hukum mengutip buku Kiai Raden Haji (KRH) Hadjid itu. (Arief)