Thu. Sep 29th, 2022

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Sidang Investasi Bodong, Korban Ngaku Sempat Diancam Gunakan Senpi

Rakyatmerdekanews.com,Jakarta – Sidang penipuan dan penggelapan melalui modus investasi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara sampai pada agenda pemeriksaan saksi. Kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sulastri, Subhan, dan Ari Sulton menghadirkan empat orang saksi Ricky Tratama, Bella Aprilla , Vira Septiana, dan Fernando Senin (27/06/2022) kemarin.

Dalam pengakuanya dihadapan Ketua Majelis Hakim Suratno, saksi korban Rikcy menderita kerugian sebesar Rp 51 milyar pada sekitar Februari 2021 hingga Desember 2021. Awalnya terdakwa Kevin Lime menawarkan investasi untuk orderan pengadaan alat kesehatan (alkes), diantaranya masker, apd, dan lain-lain.Korban percaya karena terdakwa menjajikan keuntungan .

Untuk lebih meyakinkan terdakwa juga menunjukan foto dengan beberapa pejabat serta tada tangan pejabat. Hingga akhirnya percaya dan menyerahkan uang melalui transfer kepada terdakwa.

Korban di iming-imingi dengan keuntungan 20-30 persen dan dibayar setelah setelah ada projek selanjutanya , untuk projek awal terdakwa mengaku memiliki order 1 jt pcs apd korban juga pernah tanya dimana saat itu terdakwa menunjukan foto pejabat .

Korban juga pernah menerima pengembalian sebanayak Rp 3 miliar sisanya belum dibayar karena ada ketermabatan pihak ke -3.

Lantaran tidak ada kejelasan kemudian korban mendatangi terdakwa Lime Goup Indonesia, namun bukanya pengembalian uang yang didapat malah terdakwa mengacungkan senjata api (senpi) seraya berkata,”gue malah senang lu orang pada datang gue gak bakalan kabur”. Saksi Riky juga mengatakan kerugian itu uang pribadi dan 16-18 orang yang sempat ilut berinvestasi. Kevin selaku direktur , memiliki kayawan dengan peran masing-masing untuk melancarkan aksinya seperti halnya Vincent sebagai orang kepercayaan tugasnya untuk meyakinkan korban-korbanya.

Selanjutnya saksi korban Bella mengaku merugi sekitar Ro 41 milyar yang di trasfer ke terdakwa Kevin, saksi korban mengaku tergiur dan percaya dan memberikan uangnya , dalam hal ini terdakwa Vincent meyakinkan para korban tentang adanya pengadaan alkes. Bella juga pernah menjukan permohonan PKPU berharap uangnya kembali namun hingga perkara ini disdangkan belom ada pemgembalian uang .

Kemudian saksi korban Vira mengaku atas perbuatan para terdakwa menderita kerugian sebesar Rp 10,9 milyar dan saksi korban
Fernando Rp 5 ,20 milyar, pada awalnya mengaku tertarik mengikuti investasi.

“Sampai detik ini pun tidak ada permintaan maaf dari pihak terdakwa baik secara langsung maupun melalui kuasa hukumnya. Para terdakwa tak pernah sekalipun menunjukkan penyesalan atas perbuatannya dan meminta maaf kepada kami.
Mewakili perasaan seluruh korban untuk meminta dan memohon kepada Jaksa Penuntut Umum untuk memberikan tuntutan semaksimal mungkin. Serta, kami memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang bijaksana agar dapat menjatuhkan putusan demi keadilan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata salah seorang korban usai persidangan .

Dalam dakwan JPU Terdakwa Kevin Lime sebagai Direktur , Dony Yus Okky Wiyatama selaku Komisaris PT.Limeme Group Indonesia (LGI) merangkap Personal Asisten. Sementara Michael selaku Bisnis Development Office serta terdakwa Vincent selaku Personal Consultan dan Bisnis Analis di PT.Limeme Group Indoensia. Perusahaan terdakwa berkedudukan di Rukan Golf Island Blok G, jalan Pulau Maju Bersama No.30 Pantai Indah Kapuk, Kelurahan Kamal, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Para terdakwa menurut JPU, melakukan perbuatannya dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat atau dengan rangkaian bohong, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan, sebagaimana diatur dan diancam Pasal 378 KUHP.

Dalam menjalankan usahanya, para terdakwa memberikan iming iming dan janji janji persenan keuntungan terhadap korban agar mau berinvenstasi suntik modal bisnis berbagai Alat Kesehatan (Alkes) saat Covid-19, tahun 2021 lalu. Sehingga korban tertarik dan mau menyuntik dana ke perusahaan terdakwa. Sementara investasi Alkes yang disampaikan para terdakwa semula berjalan normal, namun setelah beberapa waktu terjadi keterlambatan pencairan keuntungan.

Korban selaku pemilik modal investasi tidak bisa menarik uangnya sendiri sementara para terdakwa selalu beralasan kalau ditanya korban. Terdakwa beralasan sedang melakukan negosiasi untuk mendapatkan proyek dari instansi-instansi terkait.
Untuk meyakinkan para korban terdakwa Vincent selaku Personal Consultant menyampaikan dirinya benar-benar mengetahui dan menjamin proyek investasi suntik modal ini adalah real. Namun kenyataannya hingga terjadi proses hukum para terdakwa tidak mengembalikan dan tidak mencairkan dana yang disetorkan para korban.

Karena para terdakwa tidak menyelesaikan pemulangan uang investasi para korban yang sudah mencapai 109 miliar rupiah, sehingga para korban Ricky Tratama, Bella Aprilla dan Vira Septiana, melaporkan Kevin Lime bos PT.LGI dan tiga terdakwa lainnya ke Bareskrim Polri, sesuai No.LP/B/0004/I/2022/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 4 Januari 2022.(Delly M/D)