Thu. Aug 11th, 2022

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Dirjen Veri Atasi Kelangkaan Kapal Pengangkut CPO, Dampak Transisi Stop Ekspor

RakyatMerdekaNews.Com, Jakarta — Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, mengakui ada waktu transisi pengangkutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) sehingga terkesan kelangkaan kapal-kapal pengangkut tersebut.

“Tidak ada (kelangkaan kapal-kapal) itu. Yang ada waktu transisi karena kondisi force majour seperti kebijakan pandemi covid19 sehingga diperlukan kesepakatan ulang, yang sedikit menghambat waktu pengangkutannya,” ujar Plt Dirjen Veri Anggrijono, Senin (25/7).

Dicontohkannya, Pemerintah Indonesia sempat menghentikan ekspor CPO dimana kebijakan itu tentu berdampak kepada kontrak kapal-kapal pengangkut. Alhasil, para pemilik kapal pun mengalihkan sewa kepada negara lain.

Hal itu pernah diungkap Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono. Katanya, kesulitan menemukan kapal pengangkut CPO karena kapal yang biasa di sewa beralih mengangkut crude oil dari Rusia.
“Beban (biaya) juga semakin bertambah karena adanya kenaikan sewa kapal CPO,” tutur Eddy pada media, Selasa (12/7). Ia mencontohkan freight ke Rotterdam sudah naik dari US$ 75 per metrik ton (MT) menjadi US$ 150 per MT.

Optimis Ekspor
Di bagian lain, Plt Dirjen Veri Anggrijono mengungkapkan optimismenya terhadap kinerja ekspor nasional pada semester II/2022 melaju positif kendati dibayangi resesi global. “Ada sejumlah katalisator bagi performa mencerahkan ekspor Tanah Air,” ujarnya, yang juga Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) itu.

Kondisi itu, katanya, terdongkrak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang mendorong eksportir nasional untuk menggenjot volume ekspor demi meningkatkan likuiditas perusahaan. Disusul naiknya volume impor sepanjang paruh pertama tahun ini disebut akan memacu industri dalam negeri guna memacu aktivitas ekspor.

Hal itu didukung pula oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) per 15 Juli 2022. Impor komoditas primer seperti serealia tercatat mengalami kenaikan sebesar 23,53 persen pada semester I/2022 dengan nilai US$2,2 miliar, atau naik dari periode sama tahun lalu senilai US$1,78 miliar.
“Diharapkan para pengusaha jeli melihat peluang dibalik masalah global saat ini,” ujar Veri Anggrijono, seraya mengurai kondisi global. Yaitu pemerintah memandang inflasi di AS & krisis akibat perang Rusia-Ukraina justru membuka peluang bagi Indonesia untuk mengoptimalkan ekspor kebutuhan primer seperti produk tekstil ataupun makanan dan minuman. (Ari3f)