Thu. Sep 29th, 2022

rakyat merdeka news

Sajikan Berita.. Bukan Hoax!

Membaca Peta Koalisi Parpol Lewat Fenomena Pendaftaran Peserta Pemilu 2024 di KPU

Oleh: Andre Vincent Wenas, MM, MBA

Memang hipotetikal, perkiraan sementara saja, lantaran koalisi parpol yang definitif khan baru KIB (Koalisi Indonesia Bersatu): Golkar, PAN & PPP.

Pada Rabu 10 Agustus 2022, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dipimpin langsung Ketua Umum Giring Ganesha yang didampingi Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie dan Sekretaris Dewan Pembina yang juga Wakil Menteri ATR-BPN Raja Juli Antoni serta dihantar oleh ratusan kadernya mendaftarkan PSI secara resmi ke KPU.

Entah bagaimana cerita gatuk-gatuknya, oleh sementara kalangan Rabu Pon tanggal 10 itu dianggap hari dan tanggal yang baik.

Juga di hari yang sama, setelah rombongan pemudi-pemuda PSI yang heboh dengan atraksi joget Gemufamire dan Koplo serta fashion show oleh Sekjen PSI Dea Tunggaesti, Ketua PSI Isyana Bagoes Oka dan Bendahara Suci Mayangsari berjalan meninggalkan Gedung KPU, menyusul rombongan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) datang.

Walau kabar sebelumnya, PPP dan PAN rencananya mau mendaftar di hari pertama (1 Agustus 2022) namun kemudian toh berubah jadwal untuk melakukan pendaftaran bersama mitra utama koalisinya, yaitu Golkar. Jadwal pendaftaran Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) ini persis setelah PSI selesai mendaftar di KPU.

Saat ditanya wartawan kok KIB daftarnya hampir bersamaan jadwalnya dengan PSI, apakah bakal berkoalisi? Sekretaris Dewan Pembina PSI Raja Juli Antoni hanya menanggapi “Nanti kita putuskan, tapi kok ini tanda-tanda alam.” Hmm…

Seperti ditegaskan oleh Giring Ganesha beberapa waktu lalu bahwa PSI akan mengusung kandidat dari 9 nama yang ada dalam polling Rembuk Rakyat PSI.

Sekedar info, per tanggal 10 Agustus 2022 saat diakses dari laman rambukrakyat.psi.id, polling menunjukkan nama Ganjar Pranowo masih memimpin dengan persentase tertinggi yaitu 44,59%, disusul Erick Thohir 22,55%, lalu Mahfud MD 8,01%. Kemudian Ridwan Kamil 5,98%, Andika Perkasa 5,07%, Emil Dardak 4,66%, Najwa Shihab 4,61%, Sri Mulyani Indrawati 3,47% dan Tito Karnavian 1,06%.

Kembali ke soal pendaftaran KPU. Di hari pembukaan 1 Agustus 2022, parpol yang mendaftar ke KPU adalah: PDIP, PKP, PKS, Perindo dan Nasdem. Masing-masing di jam yang berbeda.

Pada tanggal 5 Agustus, Partai Demokrat dipimpin AHY bersama 34 Ketua DPD-nya menyambangi KPU. Besoknya, tanggal 6 Agustus, giliran Partai Gelora.

Pada 8 Agustus ada Partai Republik dan Partai Hanura pada jam yang berbeda. Sedang Partai Gerindra bersama PKB mendaftar barengan ke KPU. Hmm… lagi.

Dari fenomena pendaftaran parpol ke KPU ini agaknya tersirat semacam pesan politik.

Gerindra dan PKB terlihat makin mesra. Mendaftar barengan ke KPU. Apakah ini “reaksi” Prabowo terhadap adanya arus kuat di internal PDIP yang getol mengusung Puan sebagai capresnya? Faktanya sudah ratusan (atau ribuan?) baliho Puan terpasang. Bakal retak-kah prasasti Batutulis? Atau diplomasi Nasi Goreng itu sudah keburu gosong?

Ringkas dan sederhananya, koalisi pertama tentu KIB yang sudah deklarasi. Siapa capres yang bakal didukung KIB (plus PSI?)? Apakah Airlangga Hartarto? Atau masih menunggu arahan sang “king-maker”. Apakah bakal ikut saja hasil polling Rembuk Rakyat PSI (Ganjar Pranowo)? Sehingga nantinya Airlangga Hartarto terposisi sebagai cawapres? atau ada skenario lain di sirkel KIB?

Kedua, PDI Perjuangan (sendirian, atau plus parpol lain “yang bisa direkrut” olehnya). Puan Maharani masih terus diperjuangkan di situ. Semua tahu sama tahu bahwa nilai jualnya masih perlu didongkrak habis-habisan. Mungkin sambil memacul kader lain yang dianggap potensial bakal menyainginya. Mungkin lho ya…

Koalisi ketiga terindikasi Gerindra yang lagi pacaran dengan PKB. Kencan mereka berdua di Gedung KPU kemarin itu semacam aksi “pamer bojo anyar neng ngarepku”. Prabowo Subianto – Muhaimin Iskandar, hmm… mari kita pantau terus apakah bakal langgeng sampai saatnya nanti.

Koalisi keempat terkesan masih agak “loose” (atau bahkan masih kocar-kacir?). Nasdem dan PKS nada dasarnya ke Anies Baswedan. Namun Nasdem dalam konvensinya pun masih mencantumkan nama Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa sebagai kandidat alternatif. Apakah keduanya itu hanya sebagai pelengkap penggembira?

Partai Demokrat (yang nada realistisnya berbunyi: siapa pun capresnya, asal cawapresnya AHY!), kalau mau membangun koalisi dengan Nasdem dan PKS nampaknya perlu “fine-tuning” di beberapa senar yang masih fals. Termasuk juga mengakurkan senar “who” dan “how much”-nya. Selain tentunya soal strategi mendongkrak nilai jual AHY yang sampai saat ini masih kedodoran.

Di PDIP ada Putri Mahkota, sedangkan di Partai Demokrat ada Putra Mahkota. Ini memang jadi pekerjaan rumah yang berat bagi para pengusungnya di internal parpol masing-masing demi mengerek elektabilitas gacoannya.

Yah, sekali lagi ini hipotetikal. Sekedar membaca perilaku politik parpol saat pendaftaran di KPU sampai tanggal 10 Agustus. Hari terakhir pedaftaran KPU adalah sampai 14 Agustus. Masih ada beberapa parpol lagi yang bakal mendaftar. Namun 9 parpol parlemen semuanya sudah selesai mendaftar.

Akhirnya, di eksterior Gedung KPU terpampang hitungan mundur. Sejak pendaftaran PSI dan KIB pada 10 Agustus 2022 menuju hari pencoblosan di tanggal 14 Februari 2024, ada tertera: Tinggal 552 hari lagi.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.