PROFIL  

KH. Marsudi Syuhud: Hakim Telah Ketuk Palu Stop Perbedaan Pendapat, Jangan Mbulet-mbulet Terus

Rakyatmerdekanews.com, Jakarta. Pesantren Ekonomi Darul Uchwah kembali menggelar acara Dzikir dan Ta’lim Pesantren. Bertempat di Jalan Kedoya Duri Raya, Masjid Al-Uchwah 2 No 24, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk Jakarta Barat, pada Sabtu (4/05/2024).

Kegiatan yang dipimpin pengasuh pesantren KH. Marsudi Syuhud itu mengusung tema, “Menambah Ketenangan Hidup dan Menyalakan POWER Connectivity kepada Sang Pencipta dan Hambanya”.

Dalam kesempatan itu Kiai Marsudi atau yang akrab disapa Abah Marsudi menyampaikan pentingnya menghargai perbedaan pendapat. Apapun kalau Hakim sudah mengetuk palu, perbedaan pendapat sudah tidak ada, nah yang ada tinggal perbedaan pendapatan.

‘Kebanyakan orang di otaknya muter-muter terus enggak segera menutup pikirannya. Kalau begitu yo wislah lima tahun mendatang saya akan mencalonkan Presiden, nah misalnya kalau kayak begitu kan mikirnya lebih enak, “ucap Marsudi.

Karena menurutnya, kalau mikirnya tidak mbulet-mbulet, itu tidak akan kehilangan sesuatu yang sangat penting yakni berupa umur dan kesempatan. Jangan mensia-siakan fatamorgana yang tak jelas. Nah, dengan demikian kita harus hati-hati agar tidak termakan oleh pikirannya sendiri, oleh halusinasi sendiri. Sebab, ketika sudah kemakan oleh pikirannya sendiri, ketika usia semakin hari kian bertambah, sehingga hal itu kurang ada manfaat umurnya, kalau masih mikirnya mbulet terus, katanya.

Kita itu lanjut Marsudi pada umumnya merasa takut pada sesuatu yang belum lihat. Takut pada hari esok yang belum datang. Kita itu sering yang kita lihat tidak takut, anehnya tapi yang tidak lihat malah merasa takut. Ketika menghadapi persoalan dengan rasa takut dan takut, semisal kalau Presiden nya ini nanti anu anu dan lain sebagainya. Nah, kalau ada sesuatu yang kita takuti dalam hidup ini hadapi saja jangan ditinggalin. Nanti kalo sudah dihadapi sedikit demi sedikit niscaya rasa takut itu akan hilang. Nah untuk itu, kita tidak perlu takut menghadapi bangsa ini seperti apa, kita harus bersyukur, tukasnya.

“Jujur saya itu merasa bangga karena Indonesia untuk saat ini menjadi moeslim country yang menurut saya terbaik di dunia, hingga menjadi referensi oleh negara-negara lain. Kritik di negara kita bebas. Ada kumpul-kumpul seperti ini merupakan hal biasa. Coba bayangkan jika mengkritik di negara moeslim county lainnya, dan coba-coba kritik rajanya, tak tahu apa yang bakal terjadi, “ujarnya.

Maka dari itu kalau menghakimi orang itu jangan berlebihan. Presiden dan wakil Presiden dilantik aja belum tapi udah dicaci maki, sudah dipuji-puji. Lebih baik agar mengetahui kinerjanya dulu. Misalnya yang di kampanyekan makan gratis, ya Alhamdulilah kita ikut senang.

Marsudi berharap kita sama-sama bangsa Indonesia tentunya kita ikuti aturan-aturan yang ada. Kalau senang jangan berlebihan, bencipun juga jangan berlebihan. Yang balance saja, dan kita lihat besok janji-janji kampanyenya dilaksankan atau tidak, tutupnya. (Red)

banner 325x300

banner 325x300

banner 325x300

banner 325x300

banner 325x300

banner 325x300

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *